Pemberontak Suriah akan Tarik Senjata Berat di Idlib

Tim, CNN Indonesia | Senin, 08/10/2018 11:18 WIB
Pemberontak Suriah akan Tarik Senjata Berat di Idlib Ilustrasi (Anadolu/Cem Genco)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemberontak Suriah yang didukung Turki berharap dapat menyelesaikan penarikan senjata berat dari zona penyangga di wilayah barat laut Suriah dalam beberapa hari. Hal ini merupakan kesepakatan untuk mencegah serangan rezim ke wilayah itu.

Rezim Suriah yang bersekutu dengan Rusia dan pemberontak yang didukung Turki telah membuat kesepakatan untuk tidak saling menyerang dengan membuat zona penyangga. Sebab perang itu akan menjadi mencegah bencana kemanusiaan terburuk dalam konflik Suriah selama tujuh tahun.

Namun presiden Suriah, Bashad Al-Assad mengatakan bahwa kesepakatan itu hanya tindakan sementara sebelum pemerintah merebut kembali wilayah itu.


"Perjanjian itu hanya langkah sementara yang dimana negara telah merealisasikan prestasi di lapangan dengan mencegah pertumpahan darah," kata Assad kepada kantor berita Suriah, SANA.

Assad juga menambahkan jika Idlib dan wilayah Suriah lainnya yang masih berada di bawah kendali teroris akan diambil kembali oleh pemerintah.

Pada bulan lalu, ada kesepakatan untuk membuat zona demiliterisasi sepanjang 15 - 20 kilometer di wilayah Idlib.

Berdasarkan kesepakatan itu, seluruh pemberontak di zona penyangga harus menarik senjata beratnya pada Rabu (10/10) dan kelompok radikal harus pergi pada 15 Oktober mendatang.
Pemberontak Suriah akan Tarik Senjata Berat di IdlibWarga Suriah mengungsi ke perbatasan dengan Turki untuk mengantisipasi serangan di sekitar Idlib (AFP PHOTO / Aaref WATAD)

Penarikan senjata

Front Pembebasan Nasional (NLF) mengumumkan bahwa mereka mulai menarik senjata berat dari zona itu sebagai bagian dari kesepakatan Rusia dan Turki.

"Kami mulai menarik senjata berat kami dari zona demiliterisasi ke belakang," kata juru bicara NLF, Naji Mustafa kepada AFP.

"Operasi itu akan berlangsung dalam beberapa hari," kata dia sambil menambahkan bahwa berbagai senjata akan dipegang oleh para pejuang yang dialokasikan di luar zona demiliterisasi.

Pada Minggu (7/10) seorang koresponden AFP melihat seorang pejuang NLF berada di garis depan dan menunggu di parit dengan memegang senjata ringan di provinsi Aleppo.

"Menurut waktu yang ditetapkan, penarikan senjata berat akan berakhir pada 10 Oktober, operasi itu sedang berlangsung," kata seorang komandan NLF kepada AFP.

"Kami memperkuat posisi kami dan siap untuk menghadapi pelanggaran apapun," kata dia.

NLF merupakan aliansi pemberontak yang didukung Turki di wilayah Idlib, namun Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang dipimpin oleh mantan penjuang Al-Qaeda menguasai sebagian besar provinsi itu.

Dalam beberapa minggu terakhir, Turki menempatkan pasukan mereka di pos pengamatan yang didirikan di wilayah yang dikuasai pemberontak idlib dan Aleppo.

Syrian Observatory for Human Rights mengatakan bahwa penarikan senjata akan berlanjut dalam beberapa hari lagi.

"Tetapi para pemberontak hanya memegang sepertiga dari zona penyangga," kata Rami Abdel Rahman, Kepala Syrian Observatory.

Sejak 2011, perang Suriah telah menewaskan lebih dari 360.000 orang dengan serangan secara brutal terhadap protes anti-pemerintah. (cin/eks)