Raja Arab Telepon Erdogan Bicarakan Nasib Khashoggi
AFP | CNN Indonesia
Senin, 15 Okt 2018 06:08 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi memperingatkan akan membalas sanksi yang dikenakan terhadap kerajaan tersebut atas hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi. Di satu sisi, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, kemarin telah menelepon Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Dalam komunikasi via telepon tersebut, Salman dan Erdogan membicarakan perihal lenyapnya Khashoggi. Sebelum lenyap, Khashoggi yang kerap mengkritik keluarga kerajaan itu mendatangi konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.
Dalam perbincangan di telepon tersebut, seperti dikutip dari AFP, pihak Erdogan dan Salman bermaksud membangun tim gabungan untuk mencari dan menginvestigasi nasib Khashoggi.
Sementara itu, dari pihak Kementerian Luar Negeri Arab menyatakan hubungan negaranya dengan Turki tetap solid.
Pendapat Internasional
Sementara itu. situasi yang dialami Khashoggi itu mengundang perhatian negara-negara mitra Arab Saudi.
Presiden AS Donald Trump mengancam bersama sekutunya akan menjatuhkan sanksi terhadap Arab andai Khashoggi merupakan korban penghilangan paksa akibat kritik sang jurnalis pada putra kerajaan, Pangeran Muhammad bin Salman.
Seiring sikap AS tersebut, muncul pula permintaan kejelasan nasib Khashoggi dari Inggris, Prancis, dan Jerman.
"Perlu ada sebuah investigasi yang kredibel untuk membuka kebenaran atas apa yang terjadi, dan-jika relevan-mengidentifikasi pelaku yang bertanggung jawab atas hilangnya Jamal Khashoggi," demikian pernyataan bersama Inggris, Prancis, dan Jerman yang juga langsung dikirimkan ke pemerintahan Arab.
Khashoggi, yang merupakan kontributor Washington Post, itu diketahui memasuki gedung konsulat Arab yang berada di kota Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.
Arab menyatakan Khashoggi telah meninggalkan gedung konsulat tanpa kekurangan apapun kala itu, namun belum jua disertakan foto atau bukti autentik perihal tersebut.
(kid)
Dalam komunikasi via telepon tersebut, Salman dan Erdogan membicarakan perihal lenyapnya Khashoggi. Sebelum lenyap, Khashoggi yang kerap mengkritik keluarga kerajaan itu mendatangi konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.
Dalam perbincangan di telepon tersebut, seperti dikutip dari AFP, pihak Erdogan dan Salman bermaksud membangun tim gabungan untuk mencari dan menginvestigasi nasib Khashoggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendapat Internasional
Sementara itu. situasi yang dialami Khashoggi itu mengundang perhatian negara-negara mitra Arab Saudi.
Presiden AS Donald Trump mengancam bersama sekutunya akan menjatuhkan sanksi terhadap Arab andai Khashoggi merupakan korban penghilangan paksa akibat kritik sang jurnalis pada putra kerajaan, Pangeran Muhammad bin Salman.
Seiring sikap AS tersebut, muncul pula permintaan kejelasan nasib Khashoggi dari Inggris, Prancis, dan Jerman.
"Perlu ada sebuah investigasi yang kredibel untuk membuka kebenaran atas apa yang terjadi, dan-jika relevan-mengidentifikasi pelaku yang bertanggung jawab atas hilangnya Jamal Khashoggi," demikian pernyataan bersama Inggris, Prancis, dan Jerman yang juga langsung dikirimkan ke pemerintahan Arab.
Khashoggi, yang merupakan kontributor Washington Post, itu diketahui memasuki gedung konsulat Arab yang berada di kota Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.
Arab menyatakan Khashoggi telah meninggalkan gedung konsulat tanpa kekurangan apapun kala itu, namun belum jua disertakan foto atau bukti autentik perihal tersebut.