Penembakan Massal di Kampus Rusia, Motif Pelaku Diselidiki

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 22:22 WIB
Penembakan Massal di Kampus Rusia, Motif Pelaku Diselidiki Pegawai medis membawa siswa yang terluka akibat penembakan massal dan pengeboman di kampus politeknik di Krimea, Rusia (REUTERS/Pavel Rebrov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyelidik Rusia bergegas untuk menetapkan motif dari remaja bersenjata yang melakukan penembakan massal dan pengeboman di kampus politeknik di Krimea. Akibatnya, 19 orang tewas dan belasan orang luka-luka.

Tidak adanya keputusan resmi mengenai motif penembakan itu. Hal ini membuat munculnya berbagai spekulasi di media sosial mengenai pelaku penembakan.

Adalah Vladislav Roslyakov (18) seorang mahasiswa politeknik tersebut yang melakukan penembakan kepada teman-temannya sendiri. Ia juga melemparkan bom rakitan ke dalam kantin.


Di akhir cerita, banyak media melaporkan bahwa ia menembak dirinya sendiri. Pihak berwenang mengatakan bahwa mayat Roslyakov ditemukan di perpustakaan kampus.

Saksi-saksi AFP melaporkan bahwa mereka mendengar penembakan dan ledakan keras serta orang-orang yang terluka akibat pecahan peluru.

Otoritas kota mengatakan 19 orang tewas. Berdasarkan laporan korban Kamis (16/10), sebanyak 14 orang tewas dan lebih dari 40 orang terluka. Diantara korban tewas adalah siswa dan enam korban lainnya berusia dibawah 18 tahun. Pemimpin Krimea, Sergei Aksyonov mengatakan bahwa 12 orang berada dalam kondisi yang sangat serius.

"Serangan itu mempertanyakan kemampuan negara untuk memberikan keamanan di Krimea, yang merupakan wilayah baru di Rusia," tulis harian Vedomosti.

"Tidak ada yang bisa menjamin bahwa ini tidak akan terjadi lagi," kata Izvestia, seorang Pro-Kremlin.

Menurut surat kabar Rusia, Kommersant remaja itu dibesarkan dalam keluarga yang agak miskin dan memiliki seorang ayah yang cacat.

Mereka menuliskan bahwa ibunya merupakan seorang saksi Yehuwa. Ini adalah organisasi Kristen yang dianggap ekstremis dan dilarang di Rusia.

Sebuah stasiun televisi Rusia melaporkan bahwa ibunya bekerja di salah satu rumah sakit yang merawat para korban. (cin/eks)