ANALISIS

Klaim Saudi dan Upaya Jauhkan Pangeran dari Kasus Khashoggi

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 20/10/2018 22:44 WIB
Klaim Saudi dan Upaya Jauhkan Pangeran dari Kasus Khashoggi Pangeran Mohammed bin Salman, di Paris, 10 April. (LUDOVIC MARIN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat menduga pengakuan Arab Saudi, setelah sebelumnya membantah dengan tegas terkait pembunuhan Jamal Khashoggi, bertujuan mengalihkan tanggung jawab dari putera mahkota kerajaan Mohammed bin Salman yang hingga kini tidak terusik kedudukannya.

Diketahui, pemerintah kerajaan ini memecat dua penasehat utama Putera Mahkota Mohammed bin Salman bersama dengan tiga pejabat dinas intelijen dan menahan 18 orang tersangka dalam langkah yang menurut para pengamat merupakan kambing hitam untuk menangkal kemarahan global atas pembunuhan Khashoggi.

Setelah 17 hari menyangkal keras, pengakuan kerajaan Arab Saudi pada Sabtu (20/10) bahwa wartawan itu tewas dalam satu "perkelahian dan adu tinju" di dalam gedung konsulat negara itu di Istanbul, Turki diterima dengan penuh rasa skeptis oleh berbagai pihak di penjuru dunia.

Arab Saudi sebelumnya menyangkal tuduhan para pejabat Turki bahwa Khashoggi dibunuh oleh agen intelijen Arab Saudi yang memutilasi jenazahnya dengan mengatakan dia telah keluar dari gedung konsulat.

"Di sini masalah besar Arab Saudi," ujar Michael Stephens, pengamat Timur Tengah dari Royal United Services Intitute.

Pernyataan tidak konsisten Arab Saudi "kini melemahkan posisi mereka", ujarnya.

Selain krisis kredibilitas negara itu, kemarahan internasional terkait nasib Khashoggi ini memicu spekulasi bahwa pangeran berusia 33 tahun yang juga dikenal dengan nama MBS kini menghadapi risiko disingkirkan dari kekuasaan oleh anggota keluarga kerajaan lain.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, di Tokyo, 13 Maret.Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, di Tokyo, 13 Maret. (REUTERS/Tomohiro Ohsumi/Pool)
Tetapi para pengamat mengatakan bahaya itu tampaknya kini sudah mereda.

Putera mahkota ini memiliki kekuasaan dengan tingkat yang belum pernah dimiliki oleh penguasa sebelumnya setelah dia menyingkirkan tokoh yang berpotensi menjadi pesaing. Hanya Raja Salman yang merupakan ayah MBS yang memiliki kekuasaan untuk menggesernya.

Kerajaan mengeluarkan keputusan kerajaan pada Sabtu yang berisi langkah pembentukan komite tingkat menteri, diketuai oleh putera mahkota itu sendiri, untuk mengubah dinas intelijen negara itu. Ini mengisyaratkan bahwa Raja Salman berniat mempertahankan MBS sebagai putera mahkota.

"Meski ada sepekulasi bahwa krisis ini akan mengakhiri karir Mohammed bin Salman, pengumuman itu menunjukkan bahwa raja masih percaya garis suksesi yang ada itu bisa dipertahankan," kata Eurasia Group, satu organisasi konsultansi risiko.

Krisis yang tidak pernah terjadi sebelumnya ini membuat raja yang tampaknya telah menyerahkan tugas harian kepada MBS melakukan intervensi, temasuk melakukan langkah diplomatik dengan Turki dan Amerika Serikat.

Raja juga memerintahkan pemecatan wakil kepala dinas intelijen Ahmad al-Assiri dan penasehat media kerajaan Saud al-Qahtani. Keduanya merupakan pembantu dekat putera mahkota.

"Keputusan menggeser pembantu dekat Mohammed bin Salman dirancang untuk memperlihatkan akuntabiltas dan menjauhkan putera mahkota dari pembunuhan ini," kata Eurasia Group.

Demonstran berperan sebagai Mohammed bin Salman dengan darah berlumuran di tangannya, di depan kedubes Arab Saudi di Washington, AS, 8 October.Demonstran berperan sebagai Mohammed bin Salman dengan darah berlumuran di tangannya, di depan kedubes Arab Saudi di Washington, AS, 8 October. (Jim WATSON / AFP)
Coreng Visi 2030

Namun, langkah dramatis pada Sabtu pagi ini belum berhasil menghentikan kecaman global terhadap MBS, yang citranya sebagai pembaharu tercoreng oleh aksi terhadap para pembangkang.

Insiden ini juga mencoreng program reformasi yang dikenal dengan nama Visi 2030 yang bertujuan mempersiapkan negara kerajaan ini menghadapi era tanpa minyak.

"Memecat Saud al-Qahtani dan Ahmad al-Assiri adalah langkah yang paling memukul MBS," kata Kristian Ulrichsen, dari Universitas Rice Amerika Serikat.

"Menarik untuk melihat apakah langkah-langkah ini cukup dalam upaya mengakhiri krisis tersebut. Jika rincian kejadian ini terus muncul, akan sulit untuk terus melindungi MBS."

Presiden AS Donald Trump tampaknya mendukung putera mahkota Arab Saudi ini dengan menerima penjelasan negara itu tekait kematian Khashoggi dan menyebutnya "langkah penting pertama".

Namun muncul keraguan atas klaim bahwa Khashoggi tewas ketika berkelahi, harian Washington Post melaporkan bahwa Badan Intelijen AS, CIA, telah mendengarkan rekaman suara yang menggambarkan bahwa wartawan itu dibunuh secara brutal dan dimutilasi oleh satu tim agen intelijen Arab Saudi.

Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, tempat Khashoggi terbunuh,Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, tempat Khashoggi terbunuh. (REUTERS/Murad Sezer)
Media pro-pemerintah Turki berulang kali mengklaim bahwa Khashoggi disiksa dan dimutilasi oleh satu tim pembunuh Arab Saudi.

Harian New York Times mengatakan satu agen intelijen Arab Saudi itu disebut Turki sering menemani Pangeran Mohammed, tiga lainnya terlibat dalam pengamanan putera mahkota dan satu orang adalah dokter spesialis forensik.

Pengakuan pemerintah Arab Saudi yang tiba-tiba ini tampaknya bertujuan mengalihkan tudingan dari para penguasa negara itu.

Tetapi pihak yang dengan dengan penguasa Arab Saudi bersikeras bahwa tidak ada upaya menutup-nutupi.

"Pemecatan dua pejabat tinggi, penasehat utama MBS setingkat anggota kabinet, memiliki kekuasaan yang besar dan wakil kepala dinas intelijen...tidak bisa dianggap sebagai upaya menutup-nutupi," ujar Ali Shihabi, kepala badan pemikir pro-Arab Saudi bernama Yayasan Arabia yang disebut dekat dengan pemerintah, di akun Twitter-nya.

Tetapi Shihabi sendiri mengeluarkan pernyataan yang berlawanan dengan upaya Arab Saudi: Khashoggi tewas karena dicekik ketika berkelahi, bukan adu tinju," ujarnya yang mengutip sumber senior di pemerintah Arab Saudi.

Sementara itu, Turki didesak untuk meminta Sekjen PBB melakukan penyelidikan internasional yang independen atas kasus ini.

Turki sendiri bertekad mengungkapkan informasi yang diperoleh terkait kematian Khashoggi namun hingga kini belum mengumumkan rincian hasil penyelidikannya.

"Rezim Arab Saudi tidak boleh berlindung di balik kebohongan untuk menghindari tanggung jawab atas pembunuhan ini," kata Summer Lopez, direktur dari PEN America.




(yns/arh)