Perang Dagang AS-China Disebut Bisa Untungkan Indonesia

Tim , CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 14:07 WIB
Perang Dagang AS-China Disebut Bisa Untungkan Indonesia Ilustrasi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perang dagang antara Amerika Serikat dan China pada disebut bisa menguntungkan Indonesia, seperti disampaikan peneliti senior RAND Corporation, Lyle J Morris. 

Ia mengatakan perang dagang antara kedua negara selama beberapa waktu terakhir telah menyebabkan ketidakpastian pasar serta iklim investasi di Negeri Tirai Bambu.

Hal itu, paparnya, membuat perusahaan-perusahaan asing, terutama korporasi AS, berpikir ulang untuk menanamkan modalnya di China.


"Ini (perang dagang) berdampak pada perusahaan dan bisnis lainnya yang selama ini telah menanamkan modal di China. Kalian pikir kemana perusahaan-perusahaan itu akan pergi? Ke Indonesia dan sejumlah negara lainnya," tutur Morris saat menjadi pembicara dalam Jakarta Geopolitical Forum 2018, Rabu (24/10).

"Saya pikir perang dagang malah bisa menjadi peluang bagi Indonesia dalam jangka panjang untuk menarik lebih banyak investasi asing ke sini terutama dari perusahaan-perusahaan AS dan negara lainnya."

Morris mengatakan perang dagang yang berkepanjangan antara AS-China akan memicu pergeseran perspektif dalam rantai produksi dan komoditas di dalam perekonomian Beijing.

Perusahaan-perusahaan tersebut, papar Morris, akan berlomba-lomba mencari negara lain yang mampu memberikan iklim investasi dan perekonomian yang lebih stabil.

Morris mengatakan Indonesia masuk dalam kriteria tersebut. Menurutnya, salah satu hal yang penting bagi pemerintah adalah untuk bisa meyakinkan para investor asing dengan menyediakan regulasi yang jelas dan jaminan stabilitas investasi.

Selain itu, paparnya, pemerintah juga harus lebih aktif dan agresif memperkuat relasi bisnis dengan AS dan negara lainnya.

"Pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini sedang tinggi-tingginya. Kalian sedang membangun jalan tol, pelabuhan, bandara-bandara-ini menjadi salah satu daya tarik bagi para perusahaan AS," ucap analis yang berfokus pada perkembangan politik dan keamanan di Asia Timur dan Asia Tenggara itu. (rds/eks)