Hal itu dikatakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Jim Mattis, Minggu, usai menggelar pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir di Bahrain.
"Kami membicarakan kasus itu, mengenai pentingnya transparansi, investigasi mendalam dan menyeluruh. Menteri Luar Negeri Jubeir menyetujui itu. Tak ada keberatan sama sekali," kata Mattis kepada wartawan setelah pembicaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia dibunuh 2 Oktober lalu saat memasuki konsulat negaranya di Istanbul, Turki, ketika ingin mengurus dokumen pernikahan dengan tunangannya. Khashoggi yang merupakan kolomnis Washington Post dibunuh dan mayatnya dimutilasi oleh sebuah tim yang dikirim dari Saudi.
Setelah menolak selama beberapa pekan, Riyadh akhirnya bersedia melakukan penyelidikan.
Namun Riyadh pada Sabtu lalu menolak permintaan Ankara untuk mengekstradisi 18 orang Saudi yang kini ditahan terkait pembunuhan Khashoggi. Penolakan itu disampaikan saat Washington memperingatkan bahwa krisis dalam kasus ini dapat berisiko mengganggu stabilitas Timur Tengah.
Dalam forum di Manama, Sabtu, Mattis mengatakan "Pembunuhan Jamal Khashoggi dengan menggunakan fasilitas diplomatik menjadi perhatian serius semua pihak."
"Kegagalan suatu negara mematuhi norma internasional dan aturan hukum dapat mengganggu stabilitas regional, tepat di saat hal itu sangat dibutuhkan," ujar Mattis.
Mattis tidak menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Jubeir di forum Manama meski di saat yang sama dia bertemu dengan sejumlah pemimpin Arab dan Eropa.
Keduanya baru berbicara saat jamuan makan malam para menteri.
Amerika sangat mengandalkan Arab Saudi untuk membendung pengaruh Iran di kawasan dan menjaga keamanan Israel. (wis)