Brasil Mengekor AS, Akan Pindahkan Kedubes ke Yerusalem

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 10:48 WIB
Brasil Mengekor AS, Akan Pindahkan Kedubes ke Yerusalem Presiden Brasil, Jair Bolsonaro. (REUTERS/Adriano Machado)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Brasil terpilih, Jair Bolsonaro dikabarkan berniat mengikuti jejak Amerika Serikat dan Guatemala dengan memindahkan kedutaan besar mereka di Tel Aviv, Israel ke Yerusalem. Namun, idenya dikabarkan justru akan membahayakan hubungan dagang antara Negeri Samba dan negara-negara di Jazirah Arab.

Bolsonaro menyatakan niat memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem melalui cuitan di akun Twitternya. Sontak rencana itu langsung disambut Israel dan Amerika Serikat.

"Sebagaimana pernyataan saya saat kampanye, kami berniat memindahkan Kedutaan Besar Brasil dari Tel Aviv ke Yerusalem. Israel adalah negara berdaulat dan kami harus menghormatinya," cuit Bolsonaro, sebagaimana dilansir The Guardian, Jumat (2/11).
Cuitan Bolsonaro langsung ditanggapi oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.


"Saya menyampaikan selamat kepada rekan Presiden Brasil terpilih, Jair Bolsonaro, atas niatnya yang mau memindahkan kedutaan besar Brasil ke Yerusalem. Sebuah langkah bersejarah, tepat, dan menggembirakan," kata Netanyahu dalam keterangan pers.

Di kawasan Amerika Latin, saat ini baru Guatemala yang benar-benar memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem. Paraguay tadinya sempat melakukan hal yang sama, tetapi dibatalkan setelah Mario Abdo Benitez terpilih menjadi presiden.

Bolsonaro dikenal sebagai tokoh dari kalangan sayap kanan Brasil. Gayanya mirip-mirip dengan Presiden AS, Donald Trump.

Meski demikian, tidak semua lapisan masyarakat setuju dengan niat Bolsonaro. Mereka khawatir hal itu malah merusak hubungan dengan negara-negara mayoritas berpenduduk Islam.
Mantan Duta Besar Brasil untuk AS, Rubens Barbosa jauh hari sudah memperingatkan langkah itu justru bisa merusak industri ternak unggas Brasil. Sebab, selama ini nilai ekspor hasil peternakan unggas Brasil ke negara-negara Arab mencapai US$6 miliar (sekitar Rp90,5 triliun).

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan status Yerusalem sampai saat ini masih status quo. Palestina berharap Yerusalem Timur yang dicaplok Israel usai perang pada 1967 akan menjadi ibu kota mereka. Sedangkan Israel mengklaim seluruh Yerusalem adalah milik mereka.

Sejumlah negara yang membina hubungan diplomatik dengan Israel masih mempertahankan kedutaan besar mereka di Tel Aviv. Mereka juga mendesak supaya status kota bersejarah itu ditentukan lewat musyawarah. (ayp/ayp)