Turki Peringatkan AS Soal Sanksi Baru Untuk Iran

CNN Indonesia | Selasa, 06/11/2018 16:58 WIB
Turki Peringatkan AS Soal Sanksi Baru Untuk Iran Unjuk rasa di Ibu Kota Teheran, Iran, memperingati Revolusi Islam 1979 dan memprotes sanksi baru Amerika Serikat. (ATTA KENARE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Turki bereaksi atas keputusan Amerika Serikat yang menarik diri dari kesepakatan nuklir dan malah menjatuhkan sanksi baru kepada Iran. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu memperingatkan kalau tindakan itu sangat berbahaya karena bisa berbalik terhadap AS.

"Sementara kami meminta (untuk) pengecualian dari AS, kami juga sangat berterus terang kepada mereka bahwa memberikan sanksi ke Iran merupakan sikap yang tidak bijaksana. Mengisolasi Iran adalah hal yang berbahaya dan menghukum rakyat Iran itu tidak adil," kata Cavusoglu saat konferensi pers, seperti dilansir AFP, Selasa (6/11).

"Turki menentang sanksi, kami tidak percaya hasil apapun dapat dicapai melalui sanksi. Saya pikir daripada sanksi, dialog dan keterlibatan yang bermakna jauh lebih bermanfaat," kata dia menambahkan.
Pada pekan ini, Presiden AS Donald Trump memberlakukan sanksi kedua terhadap Iran dengan tujuan mengisolasi sektor perbankan dan memangkas ekspor minyaknya.


AS telah memberlakukan dua sanksi kepada Iran pada tahun ini. Sanksi itu diberikan setelah Negara Abang Sam keluar dari perjanjian nuklir yang disepakati dengan Negeri Syah itu.

Sanksi baru telah memicu amarah warga Iran. Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan sanksi yang dijatuhkan AS merupakan sikap yang tidak adil.
Sebelumnya, AS telah memberikan pembebasan untuk melanjutkan impor minyak Iran tanpa menghadapi konsekuensi diplomatik terhadap delapan negara, termasuk Turki dan Jepang.

Pada Senin (5/11), AS menyatakan akan terus melawan Iran. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan AS mendesak Iran melunak terhadap mereka.
Pengawas PBB mengatakan Iran mematuhi perjanjian yang dicapai dengan pendahulu Trump, Barack Obama untuk menarik program nuklirnya. Kesepakatan itu didukung oleh negara-negara di Eropa, Rusia, dan China serta dikuatkan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pihak-pihak lain yang mendukung kesepakatan nuklir telah menentang keras langkah AS dan bersumpah untuk tetap menaati perjanjian sebelumnya. (cin/ayp)