Gaji Belum Dibayar, Guru di Seluruh Selandia Baru Mogok Kerja

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 19:59 WIB
Gaji Belum Dibayar, Guru di Seluruh Selandia Baru Mogok Kerja Ilustrasi Selandia Baru. (Wikimedia Commons/Aidan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 30 ribu guru sekolah dasar di Selandia Baru memulai aksi mogok mengajar nasional selama sepekan. Ini adalah bentuk protes mereka karena tuntutan soal tunggakan gaji dan kondisi kerja yang diperjuangkan selama tiga bulan kepada pemerintah menemui jalan buntu.

Dilansir Reuters, Senin (12/11), unjuk rasa digelar di Ibu Kota Auckland. Akibat aksi itu ratusan ribu pelajar setempat tidak bersekolah.

Para juga mengeluhkan beban kerja mereka semakin berat dengan harus mengerjakan sejumlah dokumen penilaian. Di samping itu, jumlah kelas dan pelajar semakin bertambah tetapi tidak sebanding dengan regenarasi guru.


"Masalah utamanya adalah beban kerja tidak sebanding dengan upah. Para guru sudah menahan ini sejak lama," kata seorang kepala sekolah Newton Central, Riki Teteina.

Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan pemerintah baru bisa membayarkan NZ$129 juta (sekitar lebih dari Rp1,2 triliun), dari tuntutan sebesar NZ$698 juta.

"Saya berharap para guru mau mempertimbangkan tawaran kami. Kami sudah memberikan semua pilihan. Kami berharap mereka melihat kalau pemerintah bekerja keras untuk mendengarkan seluruh tuntutan," kata Ardern.

Lembaga Pendidikan Selandia Baru (NZEI), yang setara seperti Persatuan Guru Republik Indonesia, memang menyatakan akan mempertimbangkan tawaran Ardern. Namun, mereka lebih memilih menggelar mogok mengajar di ratusan sekolah.

Menteri Pendidikan Chris Hipkins menyatakan dia kecewa dengan keputusan NZEI karena memilih mogok.

"Saya kecewa NZEI memilih mogok sebelum menanyakan kepada anggota mereka tentang usul pemerintah untuk menampung tuntutan mereka," kata Hipkins melalui keterangan pers.

Tuntutan kenaikan gaji para pekerja selalu menjadi masalah utama di Selandia Baru. Apalagi harga properti malah semakin naik dan membuat kelas pekerja benar-benar kesulitan memenuhi tuntutan hidup.

Pemerintahan Ardern yang berasal dari Partai Buruh juga tidak berjalan mulus, setahun setelah membentuk koalisi. Dia terus-terusan dirongrong oleh masalah kesenjangan ekonomi dan sosial di Selandia Baru yang tak kunjung selesai. Subsidi yang dia janjikan tak kunjung terwujud. Di samping itu, sengketa upah buruh dan kegiatan bisnis yang semakin lesu menambah runyam permasalahan. (ayp/ayp)