Pemulangan Tahap Awal Rohingya ke Myanmar Kemungkinan Batal

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 08:16 WIB
Pemulangan Tahap Awal Rohingya ke Myanmar Kemungkinan Batal Ilustrasi etnis Rohingya di pengungsian. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Jakarta, CNN Indonesia -- Proses pemulangan etnis Rohingya dari pengungsian di perbatasan Bangladesh, ke pemukiman wilayah mereka di bagian utara Myanmar ada kemungkinan tidak dilakukan mulai hari ini. Penyebabnya adalah hampir seluruh dari mereka enggan kembali karena khawatir tidak ada jaminan kalau mereka pulang tak lagi mengalami persekusi oleh aparat keamanan dan kelompok Buddha garis keras setempat.

Sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (14/11), Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) sudah keberatan dengan rencana repatriasi itu. Mereka menganggapnya program itu dijalankan secara tergesa-gesa dan tak menjamin etnis Rohingya tidak lagi mengalami persekusi.

"Itu (pemulangan etnis Rohingya) tidak akan terjadi," kata sumber di UNHCR.
Meski begitu, pemerintah Bangladesh sudah menyatakan siap menjalankan proses pemulangan Rohingya hari ini. Bahkan mereka mengerahkan pasukan untuk mengawal proses itu. Myanmar pun menyatakan siap menerima pemulangan tahap pertama berjumlah sekitar 2200 etnis Rohingya ke tanah kelahirannya.


Beberapa waktu lalu menyatakan tidak akan memaksa seluruh etnis Rohingya kembali ke Myanmar, dan sudah meminta UNHCR memastikan hanya memulangkan mereka yang benar-benar berniat saja. Apalagi, dari 48 keluarga yang ditanyai oleh perwakilan UNHCR, seluruhnya menolak kembali ke Myanmar.

Ketua Komisi Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet juga menyatakan keberatan soal rencana pemulangan etnis Rohingya dan meminta supaya dihentikan.

Persekusi dan kekerasan yang dilakukan aparat serta kelompok Buddha garis keras Myanmar di negara bagian Rakhine menyebabkan 700 ribu etnis Rohingya mengungsi ke wilayah perbatasan Bangladesh. Sejumlah kesaksian korban mengungkap kenyataan mengerikan tentang bagaimana kekejaman aparat dan kelompok Buddha radikal Myanmar terhadap mereka.
Etnis Rohingya menjadi target pembantaian dan pemerkosaan. Perkampungan mereka dibakar. Sebagian kecil dari mereka angkat senjata dengan menamakan diri Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA). PBB bahkan sudah menyatakan Myanmar melakukan pembersihan etnis.

Pemerintah junta militer Myanmar menyangkal seluruh tuduhan itu, dan berdalih mereka hanya mengincar ARSA yang dianggap teroris. Namun, dunia juga kecewa dengan sikap peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi.

Setelah partainya Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menang pemilu dan Suu Kyi diangkat menjadi penasehat negara, dia malah bungkam dan selalu berkelit ketika dicecar soal krisis Rohingya. Bahkan almamaternya, Universitas Oxford, malu dengan sikap salah satu alumnusnya yang sebelumnya getol menyuarakan soal hak asasi, dengan melepas lukisan yang dipajang di salah satu dinding gedung mereka.

Meski dicibir sana-sini dan sejumlah gelar yang disematkan kepadanya oleh beberapa organisasi dicabut, Suu Kyi tetap berkeras dengan pendapatnya.
"Saya lebih tahu negara saya ketimbang negara lain, dan saya yakin mereka juga berpendapat seperti itu. Yaitu kalian lebih paham negara kalian ketimbang orang lain," ujar Suu Kyi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Singapura, kemarin. (ayp/ayp)