Kepala coast guard di tenggara Teknaf, Foyezul Islam Mondol, mengatakan bahwa pihaknya sudah menahan setidaknya 33 warga Rohingya dan enam orang Bangladesh yang diduga membantu penyelundupan orang.
Sejumlah pejabat dan kelompok pengamat melaporkan bahwa satu kapal memang berlayar dari pesisir selatan Bangladesh. Sementara itu, sejumlah kapal lainnya berangkat dari Rakhine, Myanmar, langsung ke Malaysia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut jubir tersebut, otoritas setempat harus menciptakan kesetaraan sosial dan ekonomi di tempat tinggal atau penampungan Rohingya agar tak ada lagi eksodus yang mengkhawatirkan kawasan.
Mereka kabur dari Myanmar karena penyiksaan militer di tempat tinggal mereka di negara bagian Rakhine.
Rohingya kembali menjadi sorotan pada Agustus tahun lalu, ketika bentrokan di Rakhine kembali memanas.
Militer Myanmar lantas melakukan "operasi pembersihan" Rakhine dari kelompok bersenjata tersebut. Namun ternyata, militer juga membantai sipil Rohingya dan membakar rumah kaum minoritas tersebut.
Ribuan orang tewas dalam bentrokan tersebut, sementara ratusan ribu lainnya kabur ke Bangladesh.
[Gambas:Video CNN]
Nasib Rakhine pun semakin terkatung-katung karena Bangladesh mulai kewalahan, sementara Myanmar tak pernah mau mengakui mereka sebagai warga negara.
Melalui sebuah perjanjian dengan Bangladesh, Myanmar akhirnya sepakat untuk menerima kembali orang Rohingya yang memenuhi serangkaian persyaratan.
Meski demikian, kini Rohingya takut kembali ke Myanmar karena tak ada yang bisa menjamin keamanan mereka di sana. (has)