Insiden Rusia-Ukraina, Trump Sama Sekali Tak Mengecam

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 16:50 WIB
Insiden Rusia-Ukraina, Trump Sama Sekali Tak Mengecam Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump sama sekali tidak menyatakan kecaman atas tindakan Rusia yang menahan tiga kapal milik Ukraina, dalam insiden di Selat Kirch, Laut Azov, pada Minggu pekan lalu. Padahal, Ukraina adalah salah satu sekutu AS.

Trump sempat ditanya oleh sejumlah jurnalis mengenai sikapnya terhadap pertikaian terbaru antara Rusia dan Ukraina. Namun, jawabannya hanya mengungkapkan kekecewaan.

"Tidak bagus. (Saya) tidak senang dengan hal itu sama sekali. Kami tidak suka hal ini terjadi, dan semoga semuanya bisa diselesaikan," kata Trump, seperti dilansir CNN, Selasa (27/11).
Sejumlah perkiraan mengenai sikap Trump atas konflik terbaru di Ukraina pun bermunculan. Menurut beberapa pengamat politik, Trump seperti melunak terhadap konflik itu. Mereka menduga Trump seolah terbelenggu karena dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden dua tahun lalu.


Angkatan bersenjata Rusia menahan 2 buah kapal Angkatan Laut dan sebuah kapal tunda Ukraina pada Minggu waktu setempat.

Menurut Badan Intelijen Rusia (FSB), insiden itu terjadi ketika dua kapal AL Ukraina berukuran kecil dilengkapi meriam yang mengawal sebuah kapal tunda melintas di Laut Hitam dekat Semenanjung Krimea. Mereka hendak menuju pelabuhan di Mariupol.

Rusia beralasan kapal AL Ukraina tetap melintas dan mengabaikan peringatan. Mereka lantas terlibat duel dengan masing-masing melancarkan manuver. Alhasil, penjaga pantai Rusia melepaskan tembakan ke arah kapal AL Ukraina dan melukai sejumlah pelaut.

Menurut versi Ukraina, Rusia justru menyerang dan menyita kapal setelah mereka menjauh dan hendak kembali pelabuhan di Odessa. Mereka mengaku Rusia bertindak agresif dengan menabrak dan menembaki kapal itu.

Akibat hal itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meminta kedua belah pihak menahan diri. Namun, Ukraina memutuskan menetapkan status darurat militer di wilayah perbatasan dekat Rusia selama 30 hari. Kedua negara saat ini dalam keadaan siaga untuk bertempur.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko meminta negara-negara Blok Barat membantunya untuk menekan Rusia. Menurut dia status darurat militer harus ditetapkan untuk mencegah ancaman serbuan dari Rusia.
Menurut Kementerian Luar Negeri Ukraina, tindakan Rusia melanggar aturan internasional dan harus ditanggapi melalui jalur diplomasi. Sedangkan menurut Rusia, kapal Ukraina itu melanggar wilayah perairan mereka.

Situasi kedua negara saat ini masih tegang. Jika ada insiden lagi, kemungkinan perang tidak terhindarkan. (ayp/ayp)