Perdana, Slovenia Tunjuk Perempuan Jadi Panglima Militer

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 04:58 WIB
Perdana, Slovenia Tunjuk Perempuan Jadi Panglima Militer Pertama kali dalam sejarah, Slovenia menunjuk seorang perempuan, Mayor Jenderal Alenka Ermenc, sebagai panglima angkatan bersenjata pada Selasa (28/11). (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertama kali dalam sejarah, Slovenia menunjuk seorang perempuan, Mayor Jenderal Alenka Ermenc, sebagai panglima angkatan bersenjata pada Selasa (28/11).

Ermenc resmi menjabat Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Slovenia hari ini, Rabu (28/11), setelah dilantik.

Tak hanya di Slovenia, perempuan 55 tahun itu juga menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai panglima militer di antara negara-negara NATO.
Ermenc menjadi panglima angkatan bersenjata menggantikan pendahulunya, Mayor Jenderal Alan Geder. Sebelum ditunjuk sebagai panglima, dia merupakan wakil Gader.


Geder ditunjuk sebagai panglima militer Slovenia pada awal tahun ini setelah pendahulunya dipecat karena tak lolos tes NATO.

Ermenc pernah berpartisipasi dalam misi penjaga perdamaian KFOR yang dipimpin NATO di Kosovo. Dia juga pernah menyabet sejumlah penghargaan militer.
Presiden Slovenia, Borut Pahor, berharap penunjukan Ermenc akan membantu meningkatkan performa militer negaranya.

"Tren situasi keamanan global terus berubah dan meski Slovenia bukan negara militer yang dominan, tapi kami tetap harus meningkatkan kapabilitas militer," ucap Pahor melalui pernyataan yang dikutip The Washington Post.

Negara yang terletak di sekitar pegunungan Alpen ini memiliki sekitar 7.500 personel militer, termasuk pasukan aktif dan cadangannya.
Sementara itu, NATO menyambut baik penunjukan Ermenc. Pakta Pertahanan Negara Atlantik Utara itu menyatakan partisipasi perempuan juga diperlukan dalam aktivitas angkatan bersenjata.

"Bagi Nato, partisipasi yang setara berkontribusi menjadikan masyarakat lebih tangguh, membuat kekuatan semakin efektif, dan juga berkontribusi pada perdamaian yang abadi," ucap seorang pejabat NATO di Brussels. (rds/has)