Kisah Mantan Pemburu Slovenia yang Berdamai dengan Beruang

AFP, CNN Indonesia | Senin, 06/08/2018 18:24 WIB
Kisah Mantan Pemburu Slovenia yang Berdamai dengan Beruang Beruang coklat Eropa. (Pixabay/Alexas_Fotos)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika dirinya masih berburu di hutan, Miha Mlakar mengimpikan untuk dapat membunuh seekor beruang. Tapi kini, lelaki Slovenia berusia 33 tahun mencari nafkah dari kehidupan damai hewan-hewan buas tersebut di hutan alam, tempat tinggal mereka.

Perubahan drastis dari membidik dengan senapan menjadi memotret dengan kamera menjadikan Mlakar, yang mengelola sebuah tur pengamatan beruang, bertindak sejalan dengan upaya negerinya, Slovenia untuk mempromosikan kebersamaan manusia dan beruang.

Pernah hampir punah, populasi beruang coklat di negeri yang terletak di Pegunungan Alpen itu kini meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Yakni di kisaran seribu ekor.


Akibatnya, perjumpaan manusia dengan beruang sering terjadi. Manusia pun tidak khawatir lagi.

"Jika bertemu seekor beruang, Anda harus mundur. Tapi,itu tidak berbahaya. Beruang itu pun lebih suka menyingkir," kata Ljubo Poppovic, pensiunan berumur 67 tahun yang tinggal di Desa Banja Loka, Wilayah Konjevce Selatan, seperti dilansir kantor berita AFP.


Sekitar satu jam ke arah barat, dekat Desa Markovec, Mlakar telah membangun 20 tempat tersembunyi di hutan terpencil yang hanya dapat dijangkau oleh kendaraan off-road. Di tempat itu, dia membawa pengunjung, termasuk turis asing untuk mengamati beruang.

"Saya tidak dapat membayangkan hutan ini tanpa beruang. Beruang menjadikan hutan alami, seperti beberapa ratus atau beberapa ribu tahun lalu. Saya merasakan sebuah hubungan dengan beruang-beruang," kata dia.

Mengelola Beruang

Beruang Slovenia banyak dicari di luar negeri. Antara 1996 dan 2006, delapan beruang Slovenia dilepaskan di Pyrenesse Prancis, dan Prancis saat ini memiliki sekitar 40 populasi beruang, yang kehadirannya terbagi di berbagai wilayah mereka tinggal.

Di Slovenia, lebih dari 60 persen responden dalam sebuah survei di habitat beruang pada 2016 menyatakan mereka suka keberadaan hewan tersebut. Bahkan jika banyak yang menyatakan ingin agar keberadaan beruang dikelola.

Menurut Rok Cerne, Dinas Kehutanan Slovenia yang menangani satwa liar tercatat satu hingga tiga kasus kontak fisik antara beruang dan manusia per tahun.


"Untungnya, belum ada insiden serius dalam beberapa terakhir," kata Cerne sambil menegaskan mereka sangat aktif dalam upaya pencegahan.

Salah satu langkahnya adalah memindahkan sumber makanan yang menjadi daya tarik beruang.

Di desa-desa yang dekat dengan habitat beruang, pemerintah setempat mengganti tempat sampah plastik dan kompos, yang dapat dibukaoleh beruang dengan kontainer baja.

Menurut Cerne, kerusakan ternak akibat beruang yang berkeliarant etap stabil yang mencapai sekitar 200 ribu euro per tahun (sekitar Rp3,3 miliar), meski populasi beruang meningkat.

Petani berhak mendapatkan subsidi sebesar 80 persen untuk mendirikan pagar listrik demi melindungi ternak, dan kehilangan ternak akibat beruang akan mendapat ganti rugi.



Jika beruang rutin berkunjung ke sebuah desa, makan kelompok intervensi khusus akan masuk untuk membunuh atau merelokasi hewan dengan bantuan pemburu lokal.

"Pemusnahan teratur juga membuat jumlahnya tetap terkendali untuk memastikan kebersamaan dalam jangka panjang," kata Cerne sambil menambahkan bahwa tahun ini pihak berwenang telah mengusulkan pemusnahan 200 beruang, dua kali lebih banyak dari tahun lalu.

Beruang 'Van Damme' Rumania

Pendekatan Slovenia dapat menginspirasi negara tetangganya Rumania, dimana terdapat enam ribu beruang atau 60 persen dari perkiraan populasi beruang di Eropa.

Banyak turis di desa-desa di Pegunungan Karpatia kerap memposting foto-foto beruang yang menanti diberi makan.

Beruang yang mengobrak-abrik tempat sampah di pinggiran kota, seperti Brasov, Rumania Tengah, telah menjadi pemandangan umum.

Di sebuah lokasi pembangunan jalan raya, para pekerja memberi nama seekor beruang jantan yang kerap menemui mereka sebagai Van Damme, seperti aktor laga Hollywood.

Selain kelucuan yang diunggah wisatawan, makin banyaknya serangan beruang di Rumania kian mendesak rencana konservasi untuk menjaga populasi hewan itu lewat perburuan.



Penggunaan tempat sampah yang kuat serta pembatasan pembangunan di kawasan yang banyak dihuni beruang, juga termasuk dalam rencana pemerintah.

Sejak awal tahun lalu, sebanyak 31 orang yang sebagian besar gembala mengalami serangan beruang. Salah satunya fatal.

Sebanyak 940 temuan beruang berkeliaran tercatat tahun lalu. Termasuk serangan terhadap biri-biri, masuk ke dalam taman mencapai 120 kali.

Para aktivis penyayang binatang mengkhawatirkan rencana menggunakan perburuan sebagai upaya membatasi poulasi beruang. Livia Cimpoeru, dari World Wildlife Fund (WWF) Rumania khawatir bahwa perburuan akan menjadi instrumen utama untuk menjaga populasi beruang tetap terkendali, padahal ada langkah lain yang bisa diupayakan.



Pemerintah Rumania mengusulkan jumlah empat ribu beruang sebagai angka ideal di negara berpenduduk 20 juta orang tersebut.

Mareike Brix, dari Yayasan EuroNatur yang berbasis di Jerman mengatakan aturan sederhana, seperti menghindari beruang yang terkejut dan tidak memberi mereka makan, serta manajemen yang efisien seperti penghitungan yang akurat untuk memastikan tren, sangat penting untuk mengurangi konflik dengan manusia. "Ada risiko, dan bisa ada masalah.. Tapi itu juga bagus (memiliki beruang). Satwa liar itu sangat langka di Eropa," kata Brix seperti dilaporkan AFP.

(cin/nat)