Terkait Ukraina, Trump Ancam Batalkan Pertemuan dengan Putin

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 13:50 WIB
Terkait Ukraina, Trump Ancam Batalkan Pertemuan dengan Putin Presiden Donald Trump mengancam akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin karena sikap agresif Rusia terhadap Ukraina di Laut Hitam. (Reuters/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengancam akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin karena sikap agresif Rusia terhadap Ukraina di Laut Hitam.

Dalam wawancara dengan The Washington Post, Trump mengatakan bahwa ia akan menunggu laporan lengkap dari tim keamanan nasional AS soal penyitaan tiga kapal Ukraina oleh Rusia sebelum dapat bertemu Putin.

"Itu akan dipertimbangkan lagi. Mungkin saya tidak akan melakukan pertemuan itu. Saya tidak suka agresi. Saya tidak mau agresi itu sama sekali," ujar Trump seperti dilansir Reuters, Selasa (28/11).
Awalnya, Trump dijadwalkan bertemu dengan Putin di sela Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Buenos Aires, Argentina, yang berlangsung pada Jumat hingga Sabtu ini.


Sebelumnya, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, John Bolton, mengatakan bahwa Putin dan Trump akan membicarakan berbagai isu, mulai dari pengendalian senjata, konflik Timur Tengah, hingga Ukraina.

Namun, beberapa hari sebelum pertemuan G20, Rusia memantik ketegangan dengan Ukraina di Selat Kerch, Laut Hitam.
Pada Minggu (25/11), Rusia melepaskan tembakan dan menyita tiga kapal Ukraina yang mereka tuding memasuki wilayah Moskow.

Namun, Ukraina mengklaim bahwa kapal tersebut ditembaki setelah awak memutuskan untuk menjauh dan kembali ke pelabuhan di Odesa.

Insiden ini dikhawatirkan dapat memicu kembali perang antara kedua negara setelah Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada 2014 lalu.
Tak lama setelah insiden ini, Ukraina mencanangkan darurat militer, langkah yang membuat Putin "sangat khawatir."

Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, pun menyebut bahwa kini negaranya terancam terlibat perang terbuka dengan Rusia.

"Negara ini dalam ancaman akan terlibat perang terbuka dengan Rusia," kata Petro, seperti dilansir CNN, Rabu (28/11). (has/has)