Penasihat Trump Enggan Dengar Rekaman Pembunuhan Khashoggi

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 11:07 WIB
Penasihat Trump Enggan Dengar Rekaman Pembunuhan Khashoggi Penasihat Keamanan Amerika Serikat, John Bolton. (REUTERS/Joshua Roberts/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penasihat Keamanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, John Bolton, dikabarkan menolak mendengarkan rekaman terkait pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman.

Bolton mengatakan tidak ada gunanya mendengarkan percakapan yang ada di dalam rekaman itu karena dia tidak mengerti bahasanya.

"Saya pikir saya harus bertanya kepada Anda kenapa saya harus (mendengarkan rekaman), apa yang Anda pikir saya akan pelajari dari itu (rekamannya)," kata Bolton merespons pertanyaan sejumlah wartawan di Washington pada Selasa (27/11) kemarin.


"Saya tidak bisa membaca transkrip rekamannya," kata Bolton menambahkan ketika ditanya alasan dia tak ingin mendengarkan rekaman itu.

Khashoggi tewas di dalam konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, setelah sempat dinyatakan hilang pada 2 Oktober lalu.

Sejak itu Turki terus mengusut tuntutas pembunuhan koresponden The Washington Post tersebut. Ankara juga telah membagikan rekaman yang disebut berisikan percakapan ketika pembunuhan Khashoggi berlangsung kepada sejumlah negara seperti Saudi, Jerman, Perancis, dan juga AS.

Keengganan Bolton untuk mendengar rekaman itu dianggap semakin mencerminkan sikap Trump yang memilih mengabaikan kasus Khashoggi. Sebab kasus itu menyeret sekutu dekatnya, Arab Saudi.

Meski Badan Intelijen Pusat AS (CIA) telah menyimpulkan bahwa Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) yang memerintahkan pembunuhan tersebut, Trump enggan menindak tegas Saudi.

Orang nomor satu di AS itu malah bersumpah akan tetap menjadi mitra setia Saudi, walaupun dia menilai MbS mungkin mengetahui atau juga tidak terkait pembunuhan tersebut.

Sikap Trump dalam menghadapi Saudi dikecam banyak pihak, termasuk dari partainya sendiri, Partai Republik. Ketua Senat untuk Urusan Luar Negeri, Bob Corker, menganggap sikap sang Presiden terhadap Saudi dalam kasus ini menurunkan moral AS ke titik terendah.

Senator dari Partai Republik itu menganggap pernyataan Trump mencerminkan moral AS hanya berorientasi pada uang, "bukan beberapa hal lain yang sangat kami hargai sebagai bangsa yakni hak asasi manusia dan masalah moral lainnya."

Meski sempat menampik, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh menegaskan kerajaan tidak terlibat konspirasi pembunuhan tersebut.

Saudi menuturkan operasi itu dilakukan oleh sejumlah pejabat intelijen di luar kewenangan mereka. Negara kerajaan itu sejauh ini telah menahan 21 tersangka.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel Al-Jubeir, mengatakan seluruh tudingan terhadap anggota kerajaan, termasuk terkait pembunuhan Jamal Khashoggi, tak bisa ditoleransi.

Jubeir mengatakan Saudi tidak akan menolerir setiap pernyataan apa pun yang meremehkan Raja dan Putra Mahkota. (rds/ayp)