ANALISIS

Manuver di Laut Hitam: Penegasan Pengaruh Rusia atas Ukraina

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 19:07 WIB
Manuver di Laut Hitam: Penegasan Pengaruh Rusia atas Ukraina Konfrontasi Rusia atas Ukraina di Laut Hitam dianggap hanya cara Presiden Vladimir Putin untuk menunjukkan pengaruh geopolitiknya di kawasan. (Reuters/Mikhail Metzel/Pool/RIA Novosti/Kremlin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia dan Ukraina kembali berseteru setelah kapal angkatan laut kedua negara terlibat konfrontasi di Selat Kerch, Laut Hitam, pada Minggu (25/11).

Kapal penjaga pantai Rusia sempat melepaskan tembakan ke arah kapal militer Ukraina hingga melukai sejumlah pelaut. Kremlin mendasari manuvernya itu lantaran kapal Ukraina disebut berkeras melintasi perairan itu dan mengabaikan peringatan.

Namun, menurut Ukraina, Rusia menembaki kapal-kapalnya setelah mereka memutuskan untuk memutar balik keluar dari perairan itu.
Bentrokan antara angkatan laut kedua negara membuat relasi Kiev-Moskow kembali merenggang selepas Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina empat tahun lalu.


Ukraina menganggap manuver tersebut sebagai sebuah bentuk agresi baru dari Rusia yang selama ini menggencarkan "perang hibrida" terhadap negaranya.

Insiden militer ini bahkan dinilai sejumlah pihak membuka peluang konflik baru terjadi antara kedua negara.
Namun, menurut kolumnis politik dan konflik internasional Reuters, Peter Apps, manuver Rusia di Selat Kerch akhir pekan lalu ini hanya demonstrasi keinginan Presiden Vladimir Putin untuk menegaskan peta pengaruh geopolitik negaranya di kawasan.

"Itu adalah demonstrasi lain dari Moskow untuk menggambarkan kembali peta geopolitik yang terkadang menggunakan teknik yang tidak lazim, sebagian non-militer dan terkadang tidak mematikan," ucap Apps pada Selasa (27/11).

Manuver tersebut juga disebut sebagai upaya Kremlin mengganggu Ukraina, terutama soal Krimea. Jalur perairan Laut Hitam, Selat Kerch, hingga Laut Azov dianggap menjadi elemen kunci bagi Rusia untuk menegaskan klaim yang lebih luas terhadap Krimea.
"Moskow jelas berusaha untuk mengubah Laut Azov menjadi wilayah Rusia, dan menggunakannya sebagai pengaruh untuk mengganggu Kiev," ucap seorang ahli intelijen Rusia dari Institut Hubungan Internasional di Praha, seperti dikutip The New York Times.

"Dengan manuver itu, Moskow ingin menunjukkan kapasitasnya untuk bertindak tanpa harus khawatir tentang kendala eksternal."

Perselisihan kedua belah pihak di perairan itu pada dasarnya dianggap sulit diselesaikan karena Rusia-Ukraina sama-sama mengklaim perairan itu.

Kedua negara disebut berupaya menjadi "pelindung" wilayah tersebut untuk memastikan jalur perairan itu tetap bebas terbuka.
Rusia di Laut Hitam: Penegasan Pengaruh Putin atas UkrainaIlustrasi kapal Ukraina di Laut Hitam. (Reuters/Yevgeny Volokin)
Pada 2013 lalu, Moskow dan Kiev menandatangani perjanjian untuk menjamin perairan tersebut tetap terbuka, tetapi dalam beberapa bulan terakhir masing-masing pihak membatasi pergerakan kapal di wilayah itu.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Ukraina, Steven Pifer, menganggap pergerakan Rusia yang agresif itu mungkin dilakukan guna "menguji" tingkat dukungan sekutu Ukraina.

"Mereka (Rusia) bisa dengan mudah mundur. Namun, jika mereka merasa respons (Ukraina dan sekutu lemah), saya pikir mereka akan melanjutkan blokade," kata Pifer.

Tak Cukup Picu Perang

Namun, menurut seorang analis dan profesor ilmu politik dari Rusia, Nikolai Petrov, konfrontasi Kremlin terhadap kapal militer Ukraina ini tidak memberi keuntungan apa-apa bagi Putin.

Menurutnya, Rusia telah berhasil mengguncang politik Ukraina selama ini dengan mencaplok Krimea pada 2014 lalu dan mendukung kelompok separatis negara itu.

"Saya tidak melihat manfaat apa pun bagi Kremlin dari Konfrontasi ini," ucap Petrov.

Sementara itu, kolumnis dan analis politik dari Rusia, Oleg Khasin, menganggap konfrontasi di Laut Azov sebagai perpanjangan perselisihan tanpa akhir antara Ukraina-Rusia.

[Gambas:Video CNN]

Meski begitu, dia tidak melihat ketegangan ini akan menjadi awal dari perang skala penuh antara Rusia-Ukraina, bahkan Moskow dan negara Barat.

"Laut Azov adalah ruang yang paling nyaman untuk menjadi tempat bergulat politik yang paling spektakuler," kata Khasin.

Dia mengatakan perairan itu sebagai "waduk kecil" yang tidak pernah dianggap sebagai laut nyata.

"Laut itu hanya milik Rusia dan Ukraina, dan tidak ada pihak ketiga yang akan terpengaruh dalam konflik ini, meski jika besok seluruh kawasan Laut Azov bergejolak." (rds/has)