Fotografer China Hilang Saat Diundang Memotret ke Xinjiang

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 14:55 WIB
Fotografer China Hilang Saat Diundang Memotret ke Xinjiang Ilustrasi suasana Kota Kashgar, Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang, China. (REUTERS/Thomas Peter)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang juru foto ternama China, Lu Guang dikabarkan hilang saat bertandang ke Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang. Padahal pemenang tiga penghargaan World Press Photo itu kabarnya diundang ke sana untuk mengabadikan momen sebuah kegiatan di Ibu Kota Urumqi pada akhir Oktober.

Menurut istri Guang, Xu Xiaoli, dia hilang kontak dengan suaminya sejak 3 November. Saat itu sang suami mengabarkan akan pergi ke Kota Kashgar seorang diri.

"Dia pergi ke Kashgar sendirian," kata Xu yang bermukim di New York, Amerika Serikat, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (28/11).


Xu menyatakan melalui unggahan di dunia maya sang suami diundang oleh seorang lelaki di Xinjiang untuk memotret. Dia pun mencoba mengontak kenalan suaminya itu, tetapi dia mendapat kabar kalau keduanya dibawa oleh aparat keamanan setempat.
Hingga saat ini Xu menyatakan sama sekali tidak menerima pemberitahuan dari pemerintah kalau suaminya memang ditangkap aparat. Dia juga belum berhasil mengontak Kepolisian Xinjiang. Padahal pada awal Desember mereka berencana merayakan pernikahan.

"Kami seharusnya merayakan 20 tahun pernikahan kami pada 4 Desember nanti. Sejak dia hilang kontak, setiap hari terasa lama seperti tahunan," kata Xu.

Pemerintah China dikenal berlaku diskriminatif terhadap wilayah Xinjiang dan etnis Uighur yang memeluk Islam. Mereka kerap memberlakukan aturan tak masuk akal, seperti melarang puasa saat Ramadhan, dilarang menggelar pengajian, hingga salat berjamaah. Bahkan aparat China secara ketat menempatkan pos-pos pemeriksaan di seluruh wilayah hingga perbatasan Xinjiang.

Belakangan China dikabarkan sengaja menangkap dan mengirim etnis Uighur, baik lelaki maupun perempuan, ke kamp khusus. Mereka dipaksa belajar budaya China di bawah rezim Partai Komunis dan menanggalkan identitas aslinya. Konon menurut pengakuan mereka yang selesai menjalani 'pendidikan', mereka diperlakukan dengan kejam.
Alasan pemerintah China melakukan hal itu adalah untuk mencegah penyebaran ideologi radikal di kalangan etnis Uighur. Namun, dari sisi etnis Uighur, mereka menyatakan justru perlakuan pemerintah China yang memicu radikalisme dan ekstremisme.

Saat pemimpin Partai Komunis China, Mao Tse Tung meluncurkan program Revolusi Budaya pada 1966 hingga 1976, sejumlah masyarakat yang memegang teguh prinsip religius ikut terdampak. Padahal, mulanya gagasan itu bertujuan memerangi kaum bangsawan di masa kekaisaran yang dianggap menyusup ke pemerintahan dan hendak mengembalikan posisi mereka.

Karena program itu juga pasukan China menyerbu dan mencaplok Tibet. Hal itu menyebabkan pemimpin Tibet, Dalai Lama, mengungsi dan hingga saat ini berada di pengasingan di India. Tentara Merah China dan organisasi sayap Partai Komunis juga kerap merusak rumah-rumah ibadah serta simbol-simbol kaum bangsawan saat masa Revolusi Budaya.
Guang dikenal kerap menyorot masalah-masalah sensitif di China, seperti pencemaran lingkungan oleh industri, narkoba, serta penyakit yang mewabah seperti AIDS. (ayp/ayp)