Gagal Capai Malaysia, 93 Rohingya Dikembalikan ke Myanmar

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 17:15 WIB
Gagal Capai Malaysia, 93 Rohingya Dikembalikan ke Myanmar Ilustrasi pengungsi Rohingya. (ANTARA FOTO/Rahmad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian mengembalikan 93 Rohingya ke penampungan di Sittwe, Myanmar, setelah mereka mencoba kabur ke Malaysia menggunakan perahu.

"Mereka semua dikirim kembali ke Sittwe menggunakan kapal angkatan laut semalam," ujar perwakilan kepolisian Myanmar, Min Lwin, kepada AFP, Rabu (28/11).

Kapal yang digunakan para Rohingya itu sendiri sudah disita oleh kepolisian Myanmar ketika mereka ditangkap pada Selasa (27/11).
Ini adalah kali ketiga kapal pembawa Rohingya ditahan ketika menuju Malaysia menjelang akhir tahun ini.


Juru bicara badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa pun sudah sempat mendesak agar ada upaya pencegahan karena ketika musim muson sudah lewat, akan semakin banyak kapal imigran yang berlayar.

"Dengan kemungkinan peningkatan pergerakan kapal di akhir musim muson, sangat penting bagi otoritas untuk mengambil langkah penanganan akar masalah pergerakan ini," ucap juru bicara itu kepada Reuters.
Menurut jubir tersebut, otoritas setempat harus menciptakan kesetaraan sosial dan ekonomi di tempat tinggal atau penampungan Rohingya agar tak ada lagi eksodus yang mengkhawatirkan kawasan.

Eksodus Rohingya ini pertama kali terjadi pada 2012, ketika kapal-kapal mereka terdampar di perairan Malaysia dan Indonesia saat menuju Australia.

Mereka kabur dari Myanmar karena penyiksaan militer di tempat tinggal mereka di negara bagian Rakhine.
Rohingya kembali menjadi sorotan pada Agustus tahun lalu, ketika bentrokan di Rakhine kembali memanas.

Bentrokan bermula ketika satu kelompok bersenjata Rohingya menyerang sejumlah pos polisi dan satu markas militer di Rakhine.

Militer Myanmar lantas melakukan "operasi pembersihan" Rakhine dari kelompok bersenjata tersebut. Namun ternyata, militer juga membantai sipil Rohingya dan membakar rumah kaum minoritas tersebut.
Ribuan orang tewas dalam bentrokan tersebut, sementara ratusan ribu lainnya kabur ke Bangladesh.

Nasib Rakhine pun semakin terkatung-katung karena Bangladesh mulai kewalahan, sementara Myanmar tak pernah mau mengakui mereka sebagai warga negara.

Melalui sebuah perjanjian dengan Bangladesh, Myanmar akhirnya sepakat untuk menerima kembali orang Rohingya yang memenuhi serangkaian persyaratan.

Meski demikian, kini Rohingya takut kembali ke Myanmar karena tak ada yang bisa menjamin keamanan mereka di sana. (has/has)