China Berencana Bangun Pangkalan Bawah Air di LCS

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 06:26 WIB
China Berencana Bangun Pangkalan Bawah Air di LCS Ilustrasi Laut China Selatan. (Reuters/U.S. Navy)
Jakarta, CNN Indonesia -- China dikabarkan berencana membangun pangkalan bawah laut untuk operasional kapal selam nirawak dan pertahanan di Laut China Selatan.

Proyek yang diberi nama AI Atlantis itu diluncurkan di Akademi Ilmu Pengetahuan China di Beijing bulan ini setelah Presiden Xi Jinping mendorong para insinyur untuk lebih berani berinovasi dan menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya.

"Tidak ada jalan di permukaan bawah laut, kita (China) tidak perlu mengejar (negara lain), karena kita adalah jalannya," tutur Xi saat mengunjungi Institut Penelitian Bawah Laut di Sanya, Hainan, seperti dikutip The South China Morning Post, Selasa (27/11).
Proyek tersebut rencananya dibangun di zona Hadal, wilayah terdalam samudera sekitar 6.000 hingga 11.000 meter dan biasanya berbentuk palung.


Pemerintah disebut merogoh kocek sebesar 1,1 miliar yuan atau setara Rp2,32 triliun untuk membangun AI Atlantis.

Seperti stasiun luar angkasa, kompleks bawah laut juga memerlukan dek atau geladak. Para insinyur disebut perlu mengembangkan material untuk menahan tekanan air yang sangat besar di dasar laut.

"Proyek ini sama menantangnya dengan membangun koloni di planet lain untuk para robot. Teknologi bisa mengubah dunia," ucap seorang peneliti.
Ketika rampung, pangkalan tersebut akan dimanfaatkan untuk melakukan survei dasar laut, mengumpulkan sampel mineral, dan mencatat bentuk-bentuk kehidupan bawah laut.

Sementara itu, kebutuhan listrik dan komunikasi pangkalan akan bergantung pada kabel yang terhubung ke kapal. Kekuatan "otak" dan sensornya disebut memungkinkan pangkalan tersebut menjalankan misi otonom.

Dikutip Sputnik, semua sampel yang didapat akan diteliti oleh robot di pangkalan tersebut sebelum laporan lengkapnya dikirim ke pejabat.
Peneliti akademi Laboratorium Kunci Samudera dan Geologi Laut Marjinal di Guangzhou, Yan Pin, mengatakan Palung Manila memiliki potensi untuk dijadikan lokasi proyek teknologi tinggi ini.

"Palung Manila adalah satu-satunya tempat di Laut China Selatan dengan kedalaman melebihi 4.876 meter," kata Yan.

Meski begitu, palung tersebut juga dikenal sebagai salah satu zona gempa terbesar di dunia, karena merupakan titik temu antara lempeng tektonik Eurasia dan Pasifik.
Wilayah ini juga dekat dengan perairan Scarborough yang menjadi sengketa antara China dan Filipina. Yan mengusulkan China menjamin keuntungan timbal balik bagi Filipina agar pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte bisa ikut serta dalam proyek.

Laut China Selatan merupakan salah satu perairan yang paling diperebutkan. Perairan itu menjadi rawan konflik terutama setelah China mengklaim hampir 90 persen wilayah itu, yang tumpang tindih dengan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, dan Malaysia.

Namun, Beijing disebut tengah mempertimbangkan berbagi data penelitian dan teknologi dengan negara-negara pengklaim supaya bisa memenangkan dukungan untuk membangun proyek tersebut. (rds/has)