Tekanan Ekonomi Bikin Lansia di Korsel Menjadi Penjahat

CNN Indonesia | Rabu, 19/12/2018 19:15 WIB
Tekanan Ekonomi Bikin Lansia di Korsel Menjadi Penjahat Masyarakat Korea Selatan khawatir dengan maraknya aksi kejahatan yang dilakukan kaum lanjut usia, dengan dalih tekanan ekonomi. (Istockphoto/chinaface)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Korea Selatan saat ini sedang dikhawatirkan dengan maraknya aksi kekerasan, kejahatan dan premanisme yang dilakukan kaum lanjut usia. Mereka berdalih tekanan ekonomi membuat mereka berbuat kriminal.

Menurut data statistik dikutip dari CNN pada Rabu (19/12), tercatat sebesar 45 persen peningkatan kejahatan dilakukan oleh orang berusia di atas 65 tahun dalam lima tahun terakhir.

Penjahat uzur ini ternyata masih bernyali melakukan sejumlah kejahatan serius. Yaitu pembunuhan, pembakaran, pemerkosaan dan perampokan yang tercatat meningkat sebesar 70 persen.


Jumlah kasus meroket dari seribu kasus pada 2013, menjadi 1.800 kasus di 2017.
Dalam salah satu kasus pada November lalu, seorang lelaki berusia 70 tahun ditangkap atas dugaan menyerang kurir dengan alasan terlambat mengantar parsel. Ketika polisi tiba, ternyata pelaku lupa dia telah menerima paket tersebut dari dua hari sebelumnya.

Kejahatan serupa juga tercatat pada Agustus lalu, ketika seorang lansia diduga menewaskan dua pegawai negeri dan melukai seorang tetangga karena perselisihan sepele.

Dan pada April lalu, seorang wanita berusia 69 tahun dilaporkan meracuni sup ikan yang disajikan di sebuah kenduri desa dengan pestisida.

Lebih dari 14 persen warga Korsel berusia di atas 65 tahun. Kebanyakan lansia, yang sudah tak lagi berpenghasilan, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehingga berujung memilih jalan pintas menjadi kriminal.

"Dengan tidak ada pekerjaan yang memungkinkan orang tua untuk berkontribusi pada masyarakat, mereka merasa putus asa dan menyebabkan permusuhan dengan orang lain, depresi dan perilaku antisosial," kata profesor dan krimonolog dari Universitas Dongguk, Seoul, Cho Youn-oh.
Tekanan Ekonomi Bikin Lansia di Korsel Banyak Menjadi BanditKurangnya lapangan pekerjaan dan dukungan finansial bagi lansia di Korea Selatan meningkatkan kemungkinan aksi kriminalitas. (Ilustrasi Istockphoto/PeopleImages)
Menurut catatan pada 2017, separuh dari warga lansia di Korea hidup dalam kemiskinan.

Sekitar 60 persen warga lansia di Korea juga tidak memenuhi syarat untuk mendapat tunjangan pensiunan nasional, yang baru diwajibkan pada akhir 1990-an.

"Isolasi dan perasaan bahwa mereka tidak memiliki hal berarti membuat mereka kehilangan kontrol dan berperilaku sembarangan. Umumnya, orang-orang yang berhubungan lebih banyak dengan masyarakat melalui keluarga dan pekerjaan, cenderung memiliki kontrol diri yang lebih baik sehingga tidak berbuat kriminal," tambah Cho.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Park, salah satu narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Nambu. Narapidana yang sudah dua tahun mendekam di penjara itu mengatakan kurangnya lapangan pekerjaan dan dukungan finansial bagi lansia meningkatkan kemungkinan aksi kriminalitas.

"Angka kriminal naik ketika orang tak punya uang," katanya.
Jumlah narapidana lansia terus bertambah juga membawa masalah lain. Penjara mulai kewalahan menampung para kriminal.

Belum lagi mereka juga menghadapi berbagai masalah kesehatan, seperti demensia, kanker dan gagal ginjal, sehingga perlu penanganan khusus.

Narapidana lansia juga umumnya harus dipisahkan dari narapidana muda.

"Jika narapidana lansia dan muda digabung, kemungkinan mereka terlibat dalam perkelahian justru lebih tinggi karena kesenjangan generasi dan perbedaan budaya," kata wakil direktur Lembaga Permasyarakatan Nambu, Seoul, Lee Yun-Hwi.

Saking sulitnya hidup mereka, narapidana lansia mengatakan mereka merasa lebih aman di penjara ketimbang harus hidup bebas. Sebab di penjara hidup mereka dijamin. Mereka mendapat jatah makan, pakaian, dan tempat untuk istirahat di sel.

Ironi ini sekilas mengingatkan dengan cuplikan kisah karakter Brooks Hatler yang diperankan aktor James Whitmore dalam film Shawshank Redemption. Brooks yang sudah lanjut usia ketika dibebaskan malah memilih bunuh diri karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

"Mereka (narapidana lansia) tidak punya tempat tinggal untuk berlindung dan uang untuk makan ketika dibebaskan," tutur narapidana berusia 70 tahun itu.
Tercatat sekitar 30 persen narapidana lanjut usia kembali melakukan kejahatan setelah dibebaskan. Menurut Cho, jaringan dukungan sosial dapat menekan angka kriminalitas lansia. (fey/ayp)