Turki dan AS Sepakat Cegah Kekosongan Kekuasaan di Suriah

CNN Indonesia | Senin, 24/12/2018 05:16 WIB
Turki dan AS Sepakat Cegah Kekosongan Kekuasaan di Suriah Donald Trump tarik pasukan AS dari Suriah. (Courtesy Arnada Jones/U.S. Army/Handout via REUTERS).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepakat untuk mencegah kekosongan kekuasaan di Suriah setelah pasukan militer AS menarik diri. Kesepakatan ini dicapai setelah mereka lewat percakapan telepon pada Minggu (23/12).

"Kedua pemimpin sepakat untuk memastikan koordinasi antara militer, diplomatik, dan pejabat negara masing-masing untuk menghindari kekosongan kekuasaan yang dapat terjadi setelah penarikan dan transisi di Suriah," kata Erdogan dalam sebuah pernyataan, Senin (24/12) dikutip AFP.

Trump mengejutkan sekutunya dan perusahaan AS pada hari Rabu ketika ia memerintahkan penarikan 2.000 pasukan darat AS di Suriah.


Langkah mengejutan itu menyebabkan pengunduran diri Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dan Brett McGurk, utusan khusus untuk koalisi anti-ISIS.

Namun Turki menyambut keputusan Trump tersebut. Erdogan mengatakan kepada Trump bahwa Turki siap untuk memberikan dukungan kepada sekutu NATO untuk menarik diri.

Sebelumnya, Trump dan Erdogan masing-masing mengatakan di Twitter bahwa mereka mengadakan saling berbicara lewat telepon.

Kedua Presiden itu juga sepakat terkait perdagangan antara AS dan Turki yang harus ditingkatkan lagi.

Hubungan antara Turki dan AS telah membaik sejak ketegangan yang sengit di musim panas lalu mengenai penahanan seorang pendeta AS yang kemudian dibebaskan pada bulan Oktober.


Hubungan kedua negara juga sangat tegang dalam beberapa tahun terakhir karena kehadiran AS di Suriah mendukung milisi Kurdi yang berperang melawan ISIS.

Padahal Turki menganggap milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) merupakan cabang teroris dari militan Kurdi yang mengobarkan pemberontakan di Turki. (AFP/osc)