Dubes China Klaim Xinjiang Terbuka Bagi Turis

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 19:18 WIB
Dubes China Klaim Xinjiang Terbuka Bagi Turis Dubes China, Xiao Qian mengklaim Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang terbuka bagi pelancong. Namun, seorang juru foto kawakan, Lu Guang, ditangkap tanpa alasan jelas saat berkunjung ke sana. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian mengklaim Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang selama ini terbuka bagi para wisatawan. Di daerah itu dikabarkan rezim komunis menindas etnis minoritas Uighur dengan memasukkan mereka ke kamp khusus, guna dijejali propaganda ideologi komunis.

Xiao mengklaim sekitar 100 juta wisatawan mengunjungi Provinsi Xinjiang tahun lalu. Dia membantah kabar yang menyebut pemerintah Negeri Tirai Bambu membatasi akses warga asing ke wilayah otonomi khusus itu.

"Pada tahun lalu, ada 100 juta turis mengunjungi provinsi Xinjiang. Mereka termasuk wisatawan domestik dan mancanegara. Jadi siapa saja bisa ke sana, tidak ada persoalan soal pembatasan akses," kata Xiao dalam jumpa pers bersama pemimpin Pengurus Pusat Muhammadiyah di Jakarta, pada Jumat (28/12).
Kabar pembatasan akses menuju Xinjiang muncul seiring dengan isu dugaan persekusi oleh otoritas China terhadap etnis minoritas Uighur, kembali mencuat dalam beberapa bulan terakhir.


Bahkan juru foto kawakan China, Lu Guang ditangkap oleh aparat ketika berkunjung ke kota Kashgar, Xinjiang. Belum jelas alasan penahanan lelaki yang bermukim di New York, Amerika Serikat itu.

Pada September lalu, laporan kelompok pemerhati hak asasi manusia, Amnesty International mengungkapkan otoritas China telah menahan sekitar 1 juta etnis minoritas tersebut dalam penampungan layaknya kamp konsentrasi.

Di sana, para tahanan dilaporkan didoktrin supaya mengamalkan ideologi komunis. Berdasarkan kesaksian sejumlah warga Xinjiang, otoritas China telah melakukan penahanan secara sewenang-wenang tersebut sejak 2014 silam.

Tak hanya itu, otoritas China juga disebut membatasi hak-hak masyarakat Xinjiang termasuk etnis Uighur untuk beribadah. Pemerintah disebut memberlakukan kebijakan khusus yang cukup ketat bagi masyarakat Xinjiang.
Otoritas lokal bahkan disebut melarang masyarakat Xinjiang untuk melakukan aktivitas keagamaan bersama di ruang publik termasuk sekolah.

Pada 2014, China dilaporkan melarang murid sekolah dan mahasiswa di Xinjiang untuk berpuasa. Para pengajar dan guru sekolah-sekolah di wilayah itu juga dilarang berpartisipasi dan mewartakan pemikiran agama ketika mengajar.

Karena aturan khusus ini, pemerintah China disebut mengontrol ketat orang-orang, terutama turis, yang ingin mengunjungi Xinjiang.

Xiao mengklaim kebebasan beragama dan hak melakukan ibadah dilindungi hukum dan undang-undang dasar China.
"Saya ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa kebebasan beragama dan menjalankan kegiatan agama itu dilindungi dalam konstitusi dan hukum China. Jadi, tidak ada yang namanya membatasi kebebasan beragama," kata Xiao. (rds/ayp)