Sebanyak Empat Orang Tewas saat Pemilu Kongo

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 07:19 WIB
Sebanyak Empat Orang Tewas saat Pemilu Kongo Sebanyak empat orang, termasuk seorang petugas kepolisian dan pejabat komisi pemilihan umum Kongo tewas saat kerusuhan pemilihan presiden. (mkaragoz/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak Empat orang, termasuk seorang petugas kepolisian dan seorang pejabat komisi pemilihan umum Kongo tewas di provinsi Kivu Selatan, pada Minggu (30/12) waktu setempat. Kerusuhan terjadi ketika warga Republik Demokrasi Kongo memberikan suara dalam proses pemilihan presiden.

Dikutip dari AFP, Direktur Kampanye kandidat oposisi Vital Kamerhe mengatakan perwira dan pejabat itu tewas bersama dengan dua warga sipil dalam bentrokan di sebuah tempat pemungutan suara di daerah Walungu.

Menurut dia, kekerasan terjadi setelah pejabat pemilihan umum dituduh berusaha mencurangi proses pemungutan suara yang mendukung Emmanuel Ramazini Shadary, kandidat Presiden Joseph Kabila yang berkuasa selama 17 tahun.



"Kerumunan yang gelisah mulai berkelahi dengan polisi. Seorang perwira tewas, kami sangat sesali. Massa kemudian menyerang pejabat pemilihan dan meninggal, dua warga sipil juga tewas," kata Kamerhe kepada AFP, Minggu (30/12) waktu setempat.

Pihak berwenang di Kivu Selatan mengatakan penyelidikan terhadap insiden tersebut telah dibuka. Pengamat pemilihan Gereja Katolik (Cenco) tidak menyebutkan kematian dalam laporan ketiga dan terakhir mereka pada pemungutan suara.

Pemilihan tersebut memberi peluang bagi Republik Demokrasi Kongo untuk mengalihkan kekuasaan secara damai untuk pertama kalinya sejak merdeka dari Belgia pada 1960 silam.


Namun, para analis memperingatkan ada ancaman pergolakan yang hebat, mengingat hambatan organisasi dan kecurigaan terhadap Kabila, yang menolak untuk turun jabatan pada 2016, meski batas dua masa kepemimpinannya berakhir.

Setelah dua tahun mengalami penundaan, Republik Demokratis Kongo memilih hari Minggu (30/12) untuk mengadakan pemilihan presiden yang akan menentukan masa depan raksasa Afrika yang terkenal tidak stabil tersebut.

Kredibilitas pemilihan umum dikhawatirkan karena terjadi penundaan berulang kali. Pemilu juga diproyeksi mengalami kekacauan karena adanya tuduhan bahwa lembaga pemungutan suara elektronik akan membantu melakukan kecurangan.


Pada malam pemilihan, pembicaraan mengarah pada pencegahan kekerasan setelah pemungutan suara gagal.

Tokoh oposisi, Martin Fayulu dan Felix Tshisekedi menolak menandatangani kode etik yang diusulkan dengan penerus yang disukai Kabila, Emmanuel Ramazani Shadary. Mereka menuduh para pejabat dengan Komisi Pemilihan Umum Independen (CENI) menggagalkan perubahan pada teks.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, dan Eropa telah menyerukan agar pemilihan itu bebas, adil dan damai. Seruan yang sama juga digemakan oleh presiden Angola, Botswana, Namibia, Zambia dan Republik Kongo yang bertetangga. (AFP/lav)