Mahathir: Saya Teman Baik China

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 22:49 WIB
Mahathir: Saya Teman Baik China Usai membatalkan sejumlah proyek, Mahathir Mohamad kerap dijuluki anti-China. Namun kini, sang PM Malaysia buka suara dan mengaku bahwa ia teman baik China. (AFP PHOTO/POOL/HOW HWEE YOUNG)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah membatalkan sejumlah proyek, Mahathir Mohamad kerap dijuluki anti-China. Namun kini, sang Perdana Menteri Malaysia buka suara dan mengaku bahwa ia adalah teman baik China.

"Banyak warga China kenal saya. Mereka melihat saya sebagai teman baik China," ujar Mahathir dalam wawancara khusus dengan Si Chew Daily.

Melanjutkan pernyataannya, Mahathir berkata, "Hanya karena pemerintah Malaysia meminta peninjauan kembali proyek Jaringan Kereta Pesisir Timur (ECRL) dan membatalkan proyek jalur pipa gas alam Sabah dan Melaka lantas saya disebut tak bersahabat?"



Ia kemudian menjelaskan bahwa pemerintah China sendiri sudah memahami Malaysia kini sedang menghadapi masalah keuangan serius.

"Saya mengatakan kepada mereka bahwa kami tak bisa memenuhi (proyek itu). Ini bukan masalah kami mau atau tidak. Itu semua memang proyek yang buruk sejak awal dan kami tidak sanggup," tuturnya.

Terkait ECRL, Mahathir mengatakan bahwa pemerintah masih bernegosiasi dengan China. Jika China setuju, Malaysia akan melanjutkan proyek tersebut dalam skala lebih kecil.


Namun hingga saat ini, belum ada solusi yang baik. Kedua negara juga masih mencari waktu lain untuk menggelar negosiasi lanjutan.

"Kami mencoba memastikan agar China tidak rugi dan kami tak perlu mengeluarkan terlalu banyak uang," ucap Mahathir sebagaimana dikutip The Straits Times.

Mahathir kembali menekankan bahwa Malaysia kini terimpit di tengah situasi sulit karena jika mereka membatalkan proyek itu, pemerintah harus membayar kompensasi besar. Di sisi lain, pemerintah secara finansial tak bisa mengeksekusi proyek itu.

"Kami terus bernegosiasi dengan mereka, baik itu dengan cara formal maupun informal. Bagi China, ini kontrak yang bagus. Mereka bisa mendapatkan banyak uang dan mereka tak mau beradaptasi," tutur Mahathir.


Kejanggalan proyek ini mulai terendus setelah koalisi Mahathir, Pakatan Harapan, mengambil alih pemerintahan dari koalisi Barisan Nasional yang dipimpin Najib Razak dalam pemilu bersejarah pada tahun lalu.

Saat itu, jajaran pemerintahan Mahathir menyadari bahwa Najib menggagas proyek itu menggunakan pinjaman bank dan sistem kontrak yang tak menguntungkan. PH pun berupaya merombak proyek itu.

"Tidak mudah karena ada sejumlah persyaratan dalam kontrak. Kita tidak bisa berhenti. Kami tidak punya uang untuk membayar China. Jika kami mengalihkan proyek itu, akan ada kompensasi besar," katanya.


Menurut Mahathir, jika bisa, pemerintah memilih untuk membatalkan proyek itu. Selain biaya yang besar, proyek itu juga dianggap tak menguntungkan bagi masyarakat Malaysia.

Memberikan contoh, Mahathir kemudian mengungkap bahwa biaya pembangunan ECRL diperkirakan mencapai 60 juta ringgit.

"Anda tahu bahwa proyek rel yang dilintasi penumpang feri dan kargo di barat tak pernah mengeluarkan biaya. Namun bagi ECRL, penumpangnya lebih sedikit dan mereka miskin. Mereka tak punya bisnis seperti warga di pesisir barat. Jadi, kalian tidak akan mendapatkan untung dari ECRL," katanya.

"Timbal balik dari proyek ini juga hampir nol dan kami harus membayar utang 55 juta ringgit. Jika kami tak membayar, akan didenda. Anda harus membayar jika punya utang dari bank."

Mahathir sendiri mengklaim pemerintahannya meraup keuntungan lebih banyak dari Najib. Namun, profit itu juga belum cukup untuk membiayai semua pembangunan Malaysia yang kini sedang melamban. (has/has)