Soal Eksploitasi Siswa di Taiwan, RI Tak Tahu Ada Agen Ilegal

CNN Indonesia | Jumat, 04/01/2019 18:56 WIB
Soal Eksploitasi Siswa di Taiwan, RI Tak Tahu Ada Agen Ilegal Ilustrasi, (robarmstrong2/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengaku tak mengetahui keberadaan agen-agen ilegal yang disebut membantu menyalurkan mahasiswa Indonesia untuk kuliah di universitas-universitas Taiwan.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti, Ismunandar, mengatakan pihaknya bahkan baru mengetahui bahwa kampus Taiwan bisa memasukkan mahasiswa-mahasiswa RI dari agen.

"Kami juga baru tahu beberapa universitas dan institusi di Taiwan menerima pengiriman langsung dari banyak agen," kata Ismunandar saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com pada Jumat (4/1).
Meski tak tahu operasi agen ilegal, Ismunandar memastikan kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) berisik universitas-universitas rekomendasi yang bisa jadi referensi mahasiswa Indonesia.


"Melalui MoU antara pemerintah kedua negara yang diteken November lalu, mulai saat ini kami memberikan kampus-kampus mana saja yang pemerintah rekomendasikan," katanya.

Pernyataan itu diutarakan Ismunandar menyusul kisruh dugaan eksploitasi 300 mahasiswa Indonesia yang mengikuti program kuliah-magang di Universitas Hsing Wu, Taipei. Ratusan mahasiswa itu dikabarkan dipekerjakaan melebihi jam kerja seharusnya.
Dalam sepekan, para mahasiswa itu dikabarkan hanya belajar di kelas selama dua hari. Setelah itu, mereka bekerja empat hari di pabrik selama 10 jam, dan hanya mendapat jatah satu hari libur. Berdasarkan UU Ketenagakerjaaan Taiwan, mahasiswa maksimal bekerja 20 jam per pekan.

Selain soal jam kerja yang tak sesuai, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan juga mengaku kerap mendapat keluhan dari pelajar RI bahwa mereka tertipu lembaga perantara atau agen yang memfasilitasi proses masuk ke universitas.

Dalam beberapa kasus, hal-hal yang dijanjikan agen kepada para mahasiswa tak sesuai kenyataan. Salah satu masalahnya adalah jurusan yang berbeda antara keterangan agen dan univestias, potongan besar penghasilan, hingga pekerjaan tidak sesuai dengan bidang mereka.

Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taiwan (TETO) di Jakarta juga mengakui bahwa program kuliah-magang yang baru diluncurkan pemerintahnya pada 2017 itu kerap dimanfaatkan agen-agen ilegal.
TETO memaparkan kekurangan yang ada dalam skema kuliah-magang banyak dimanfaatkan para agen untuk merekrut mahasiswa secara ilegal demi keuntungan pribadi.

Menanggapi hal itu, Ismunandar mengaku pemerintah belum melakukan penyelidikan untuk menelusuri agen-agen ilegal yang beroperasi di Indonesia. Menurutnya, penyelidikan baru bisa dilakukan setelah ada laporan aduan korban.

"Korban-korban penipuan-kalau benar ada bukti beda antara yang dijanjikan dan didapatkan di Taiwan-dapat membuat aduan laporan polisi dengan membawa barang bukti dan saksi," ujarnya.

"Kami terus meminta KDEI untuk dapat membantu klarifikasi dengan otoritas di Taiwan. Kemenristekdikti mengimbau agar calon mahasiswa Indonesia tidak mudah tergiur iming-iming agen atas tawaran program beasiswa yang tidak diendorsed oleh lembaga resmi terkait." (rds/has)