Australia Pertimbangkan Visa untuk Pemudi Saudi Minta Suaka

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 11:29 WIB
Australia Pertimbangkan Visa untuk Pemudi Saudi Minta Suaka Pemudi asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun yang ditahan di Thailand saat hendak mencari suaka ke Australia. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Australia menyatakan mempertimbangkan pemberian visa kepada Rahaf Mohammed al-Qunun, perempuan asal Arab Saudi yang ditahan di Thailand ketika berencana lari ke Negeri Kanguru untuk meminta suaka. Pertimbangan visa kemanusiaan akan diberikan jika status pengungsi Qunun disetujui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Diperkirakan PBB akan membutuhkan waktu sekitar lima hari untuk menilai pengajuan status pengungsi Qunun.

"Kami masih menunggu status pengungsi dari PBB. Jika ditemukan sebagai pengungsi, maka kami akan memberikan pertimbangan yang sangat serius untuk visa kemanusiaan," kata Menteri Kesehatan, Greg Hunt, seperti dikutip AFP, Rabu (9/1).


Kementerian Dalam Negeri Australia menyatakan mereka telah mengabari pemerintah Thailand dan perwakilan UNHCR di Bangkok perihal perkara ini. Hunt juga mengatakan telah mendesak UNHCR agar memproses kasus ini secepatnya.
Perempuan Saudi berusia 18 tahun itu sempat mengurung dirinya di hotel dekat bandara ketika ditahan oleh imigrasi Thailand di Bangkok, Minggu (6/1) pekan lalu.

Imigrasi Thailand menahan Qunun agar tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Australia karena dianggap minim kelengkapan dokumen, seperti tidak mempunyai tiket pulang dan uang simpanan.

Qunun enggan kembali ke negaranya dengan alasan takut dibunuh keluarga atau aparat kerajaan.

Ia kabur dari keluarganya ketika tengah berpergian bersama ke Kuwait. Dia mengaku kerap disiksa secara mental dan fisik oleh keluarganya.

Human Rights Watch sebelumnya telah meminta pemerintah Australia untuk mengklarifikasi status visa Qunun di tengah rumor yang mengatakan bahwa visa turis Australia remaja tersebut telah dibatalkan. Hal tersebut disampaikan oleh Nourah Alharbi, salah satu teman Qunun yang baru saja pindah dari Saudi ke Australia.

"Kami tahu mereka membatalkan visa turis Qunun. Saya tidak tahu alasannya karena mereka tidak menjawab," kata Alharbi.

Direktur Human Rights Watch Australia, Elaine Pearson, mengatakan Australia memiliki kewajiban moral untuk membantu Qunun.

"Pemerintah asing, termasuk Australia, yang peduli tentang hak asasi manusia harus menawarkan dukungan. Pemerintah mengatakan hak perempuan sebagai prioritas. Ini adalah kasus konkret di mana mereka dapat melindungi seorang perempuan muda," katanya.
Menanggapi soal perkara visa Qunun, juru bicara Partai Buruh urusan imigrari, Shayne Neumann, enggan berkomentar terlalu banyak.

"Ia (Qunun) telah mendapat ajuan yang dia buat dengan UNHCR dengan status sebagai pengungsi. Saya tidak akan mendahului hasil dari proses khusus itu," tutur Neumann.

Alharbi mengatakan penanggapan pemerintah terhadap kasus Qunun juga didorong oleh dukungan masyarakat melalui sosial media dan media massa. Qunun saat ini diperbolehkan tinggal sementara di Negeri Gajah Putih sambil menunggu proses pengajuan suakanya.

"Anda (masyarakat) telah menyelamatkan hidup Rahaf kemarin," katanya.
[Gambas:Video CNN] (fey/ayp)