Sengketa Wilayah Malaysia-Singapura Memanas Lagi

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 11:15 WIB
Sengketa Wilayah Malaysia-Singapura Memanas Lagi Ilustrasi wilayah perairan perbatasan Malaysia-Singapura. (ROSLAN RAHMAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketegangan antara Malaysia dan Singapura terkait sengketa wilayah udara dan perairan yang mulai menurun kembali naik. Penyebabnya adalah menteri negara bagian Johor, Malaysia nekat mendatangi sebuah kapal Dinas Kemaritiman yang masih berada di perairan Singapura pada pekan lalu.

Dalam pidatonya di parlemen, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan mengingatkan akan mengambil langkah penting dalam melindungi kepentingan negaranya. Padahal perwakilan kedua negara sudah menyatakan bakal menyelesaikan persoalan itu secara baik-baik.

"Kami akan selalu melakukan perhitungan yang tepat demi kepentingan kami. Dan siapapun yang berhadapan dengan Singapura tidak semestinya berasumsi tidak akan membayar apapun untuk melawan kami, akan ada konsekuensinya," ujar Balakrishan seperti dilansir AFP, Selasa (15/1).
Hal ini merupakan ketegangan hubungan yang terjadi setelah Mahathir Mohamad kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia. Mahathir diketahui memang tidak akur dengan Singapura.


Selain penerobosan perairan Singapura oleh kapal Malaysia, ketegangan juga disebabkan oleh pengajuan prosedur pendaratan (landing) yang baru oleh Singapura. Hal ini diklaim Malaysia akan melanggar kedaulatan kawasan udara Malaysia.

Tensi ketegangan sebenarnya menurun pekan lalu, setelah perwakilan kedua negara sepakat meredam persoalan akibat perselisihan di kawasan perairan dan udara.

Meski begitu, kunjungan menteri Johor malah memperburuk keadaan yang sudah sempat membaik. Setelah insiden tersebut terjadi, kepala menteri Johor sempat mengunjungi kapal yang berada di perairan yang diklaim oleh Singapura masuk ke dalam wilayahnya.

Sebagai tanggapan, Singapura pun membatalkan pertemuan antar pejabat dari kedua negara tersebut. Balakrishan mengatakan Singapura berniat mencari solusi secara damai dan mengutamakan kekuatan diplomatiknya yang berdasarkan kepada persatuan dan ketahanan.

"Fakta bahwa kita tidak bisa diintimidasi atau disuap," kata dia.
Hubungan antar kedua negara sempat hangat di bawah kepemimpinan perdana menteri Najib Razak. Namun kembali memanas sejak kembalinya Mahathir ke bangku pemerintahan setelah pernah menjabat dalam periode 1981-2003.

Beberapa pengamat menyatakan Mahathir juga tidak akur dengan pendiri Singapura, Lee Kuan Yew. (ani/ayp)