Trump Tarik Pasukan, Suku Kurdi Merasa Dikorbankan

CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 10:11 WIB
Trump Tarik Pasukan, Suku Kurdi Merasa Dikorbankan Ilustrasi pasukan etnis Kurdi. (REUTERS/Ari Jalal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 8.000 etnis Kurdi di Suriah tewas dalam peperangan melawan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Setelah Presiden Amerika SerikatDonald Trump menyatakan bakal menarik seluruh pasukan mereka di Suriah, etnis Kurdi mengaku sangat kecewa dan merasa hanya dikorbankan.

Pasukan etnis Kurdi, yaitu Peshmerga, YPJ, YPG adalah sekutu Amerika Serikat di wilayah tersebut paling kuat. Mereka bersama-sama bertempur melawan ISIS dan pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad yang didukung Iran dan Rusia.

Najma, ibu dari seorang mendiang pejuang Kurdi, Mahmoud Rassoul merasa kecewa dengan sikap AS. Sebab, dia merasa kematian anaknya seolah sia-sia karena etnis Kurdi pun belum tentu bisa hidup merdeka.


"Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan," katanya, seperti dilansir CNN, Jumat (18/1).
"Mereka menggunakan Kurdi untuk menyingkirkan ISIS dan sekarang mereka meninggalkan kami. Amerika seharusnya mendukung kami. Mereka akan meninggalkan kami untuk (Presiden Turki Recep Tayyip) Erdogan. Mereka mengorbankan kami dan sekarang mereka pergi," lanjut Najma.

Mahmoud meninggal dalam pertempuran melawan ISIS di dekat Kota Deir Ezzor, Suriah beberapa pekan lalu. Kini Najma hanya bisa meratapi pusara sang anak.

Setelah AS memutuskan angkat kaki dari Suriah, etnis Kurdi sekarang dalam posisi genting. Tepat di seberang perbatasan mereka harus menghadapi Turki, yang menganggap mereka sebagai teroris. Di sebelah barat mereka ditekan oleh rezim Bashar al-Assad yang disokong Iran dan Rusia.

Komandan militer sekaligus juru bicara Kurdi, Sharfan Darwish mengatakan Amerika Serikat memberi dukungan yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Kurdi. Sebagai imbalannya, Kurdi mau berperang melawan ISIS.

"Setelah bertahun-tahun kami memerangi terorisme bersama, itu adalah tugas kecil mereka untuk membantu menjamin keamanan kami," katanya.
"Tidak ada yang mengira mereka akan bertahan selamanya, tetapi waktunya tak lazim, cara diumumkannya pun sangat tidak lazim," ujar Darwish.

Adel Qassim juga kecewa dengan sikap Presiden Donald Trump yang memutuskan menarik seluruh pasukan mereka di Suriah. Sebab anak perempuannya, Peyman Tolhildan meninggal ketika bertempur melawan ISIS.

"Itu kesalahan, itu merupakan sebuah kesalahan. Mereka meninggalkan kita di tengah jalan," kata Qassim.

Tolhildan yang berusia 19 tahun itu merupakan seorang milisi YPG. Dia tewas ketika ISIS menyerang sekolah yang merupakan tempat markasnya.

Keputusan Trump menarik seluruh pasukan dari medan perang di Suriah pada Desember 2018 lalu sudah mulai dilakukan. Sebagian dari pasukan AS di Suriah dilaporkan mulai mengemasi sejumlah peralatan tempur. Trump meminta penarikan pasukan dilakukan bertahap dengan tenggat maksimal empat bulan.
Keputusan Trump menarik 2000 pasukan dari Suriah ditentang sejumlah pihak. Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis memilih mundur sehari setelah Trump memutuskan hal tersebut. (syf/ayp)