Dua Kapal Karam di Mediterania, 170 Imigran Diduga Tewas

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 03:45 WIB
Dua Kapal Karam di Mediterania, 170 Imigran Diduga Tewas Ilustrasi kapal imigran di Mediterania. (Reuters/Darrin Zammit Lupi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya 170 orang dikhawatirkan tewas setelah dua kapal imigran dari Libya dan Maroko karam di Laut Mediterania pada pekan lalu, sebagaimana dilaporkan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR).

"UNHCR sangat terpukul atas laporan yang mengatakan bahwa nasib sekitar 170 orang belum dapat dipastikan apakah meninggal atau hilang dari dua kapal karam di Laut Mediterania," demikian pernyataan UNHCR dalam situs resminya.

UNHCR kemudian menjabarkan bahwa berdasarkan informasi terbaru dari sumber-sumber lembaga swadaya masyarakat, sekitar 53 orang tewas di Laut Albaron, Mediterania barat.
Mereka menyatakan bahwa kapal-kapal penyelamat Maroko dan Spanyol berupaya mencari kapal dan juga orang-orang yang selamat "selama beberapa hari, tapi tidak membuahkan hasil."


"Satu orang diketahui berhasil diselamatkan oleh kapal nelayan yang lewat setelah terdampar lebih dari 24 jam di laut dan menerima perawatan medis di Maroko," tulis UNHCR.

Sementara itu, organisasi non-pemerintah Sea Watch menyatakan bahwa hanya tiga orang yang selamat dari kecelakaan dua kapal itu.
"Mereka mengaku meninggalkan Libya dengan menggunakan perahu karet yang berpenumpang 120 orang. Terdapat 117 orang yang diduga tewas atau hilang," kata kepala Misi Sea Watch, Kim Heaton-Heather.

"Tiga orang pengungsi melaporkan kepada Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) bahwa mereka telah berada di laut tanpa bantuan selama lebih dari tiga jam sebelum pesawat Angkatan Laut Italia datang."

UNHCR menyatakan "kesedihan mendalam" atas laporan dan menambahkan bahwa mereka belum dapat memastikan secara langsung jumlah korban jiwa.

"Tragedi di Mediterania tidak bisa dibiarkan berlanjut," kata Filippo Grandi dari UNHCR.
"Kita tidak bisa menutup mata terhadap banyaknya orang yang sekarat di ambang pintu Eropa. Kita harus melakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawa yang terancam di laut."

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini, menutup pelabuhan negaranya untuk kapal-kapal imigran pada Juni lalu. Pemerintahan negara populis itu juga mengesahkan undang-undang anti-imigran baru.

Pada hari Minggu (20/01), Salvini menulis di Facebook-nya, "Saya tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi kaki tangan bagi penyelundup manusia."

[Gambas:Video CNN]

Dia menambahkan bahwa wali kota dan gubernur "daripada mengecam dugaan pelanggaran terhadap hak imigran ilegal, lebih baik mengurus pekerjaan dan kesejahteraan warga mereka, mengingat bahwa orang Italia lah yang membayar gaji mereka."

IOM menyatakan jumlah imigran dan pengungsi yang tiba di Eropa tahun lalu mendekati angka 142.000, yang sebagian besar melakukan penyeberangan berbahaya di Laut Mediterania. Badan PBB melaporkan lebih dari 2.200 imigran hilang ataupun meninggal di Mediterania pada 2018.

"UNHCR prihatin tindakan yang dilakukan oleh negara semakin menghalangi LSM untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, dan menyerukan agar kebijakan ini segera dihapuskan," demikian bunyi pernyataan IOM, Sabtu (19/01). (syf/has)