Mahathir di Austria: Pemimpin Tertua dan Termuda Dunia Bersua

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 08:58 WIB
Mahathir di Austria: Pemimpin Tertua dan Termuda Dunia Bersua Pertemuan PM Malaysia, Mahathir Mohamad, dan Kanselir Austria, Sebastian Kurz, mencetak sejarah karena jadi perjumpaan pemimpin tertua dan termuda di dunia. (Reuters/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertemuan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dengan Kanselir Austria, Sebastian Kurz, mencetak sejarah karena menjadi perjumpaan antara pemimpin tertua dan termuda di dunia.

Kantor berita Malaysia, Bernama, melaporkan bahwa Mahathir bertemu dengan Kurz di sela kunjungan kerja pertamanya ke Austria sejak 1985.

Dalam sejumlah foto yang dilansir pemerintah Austria, PM berusia 93 tahun itu terlihat menjabat tangan kanselir kelahiran 32 tahun silam itu.


"Kami tahu bahwa volume perdangan kami tidak terlalu besar, tapi sangat substansial. Maka, investasi seharusnya dapat meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara," ucap Mahathir sebagaimana dikutip The Straits Times.
Mahathir pun mengatakan bahwa Austria akan ikut serta dalam proyek kereta gantung yang sedang dibangun di Langkawi, Malaysia.

"Semoga semakin banyak turis Austria datang ke Malaysia. Banyak warga Malaysia yang suka musik datang ke sini (Austria)," tutur Mahathir seperti dilansir MalaysiaKini.

Menanggapi Mahathir, Kurz mengaku sangat bersyukur dapat bertemu dengan sang PM tertua di dunia itu di negaranya.
"Sebagai pemimpin termuda, ada banyak yang dapat saya pelajari dari dia. Saya bersyukur dapat bertemu pemimpin tertua dan paling berpengalaman di dunia. Saya berterima kasih kepadanya yang sudah meluangkan waktu bertemu saya," kata Kurz.

Kurz pun menganggap Malaysia sebagai negara sahabat yang penting, di mana negaranya menanamkan investasi 860 juta euro tiap tahun melalui 70 perusahaan yang beroperasi di sana.

"Kami melihat potensi besar dengan Malaysia di sektor energi dan infrastruktur. Kami juga dapat bekerja sama lebih jauh untuk menguatkan hubungan kami, dan perlu juga untuk mengintensifkan hubungan ekonomi dan bilateral ke depannya," katanya. (has/has)