Blokade Atlet Israel, Malaysia Batal Jadi Tuan Rumah Turnamen

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 12:54 WIB
Blokade Atlet Israel, Malaysia Batal Jadi Tuan Rumah Turnamen Presiden IPC Andrew Parsons mengatakan bahwa pihaknya sudah mengingatkan Malaysia agar semua atlet dapat berpartisipasi dalam Paralimpik. (AFP Photo/Juan Mabromata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Paralimpik Internasional (IPC) melucuti hak Malaysia untuk menjadi tuan rumah sebuah kejuaraan renang dunia bagi penyandang disabilitas tahun ini setelah Negeri Jiran melarang atlet Israel berpartisipasi.

"Ketika negara tuan rumah mengecualikan atlet dari negara tertentu karena alasan politik, maka kami sama sekali tidak memiliki alternatif lain selain mencari tuan rumah baru yang bersedia menggelar kejuaraan tersebut," ucap Presiden IPC Andrew Parsons melalui pernyataan pada Minggu (27/1).

Malaysia seharusnya menjadi tuan rumah persiapan Paralimpik Tokyo 2020 yang dijadwalkan digelar di Kucing pada 29 Juli-4 Agustus 2019. 
Parsons menuturkan pihaknya sebenarnya telah memperingatkan Malaysia untuk menjamin atlet dari seluruh negara bisa berpartisipasi ketika menunjuk Negeri Jiran sebagai tuan rumah turnamen renang dunia.


"Namun, sejak terjadi perubahan kepemimpinan pemerintah dan politik, Malaysia memiliki gagasan yang berbeda," katanya.

"Politik dan olahraga tidak pernah menjadi campuran yang baik dan kami kecewa bahwa atlet Israel tidak diizinkan bertanding di Malaysia."
Pernyataan IPC tersebut dikeluarkan menanggapi kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang memutuskan melarang warga Israel ikut serta dalam setiap acara dan turnamen apa pun di Malaysia.

Keputusan itu diambil setelah Malaysia melarang atlet Negeri Zionis mengikuti kejuaraan renang dunia bagi penyandang difabel pada Juli 2018 lalu sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina yang hingga saat ini masih diduduki Israel.

Mahathir melabeli Israel sebagai negara kriminal dan suka membangun permukiman di wilayah orang lain serta mengucilkan warga asli di wilayah itu.
Israel mengecam larangan tersebut dan meminta IPC membujuk Malaysia mencabut larangan terhadap para atletnya.

Pemerintahan PM Benjamin Netanyahu bahkan menganggap larangan itu terinspirasi dari "fanatisme anti-semitisme" Mahathir.

"(Keputusan IPC) ini adalah kemenangan atas kebencian, kefanatikan, dan sebuah pernyataan kuat yang mendukung kebebasan serta kesetaraan. Terima kasih @Paralympics atas keputusan berani Anda," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon melalui Twitter-nya.



Meski begitu, Kuala Lumpur bergeming menanggapi keputusan IPC tersebut. Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, menegaskan negaranya tetap bertahan pada keputusannya melarang atlet Israel.

"Jika menjadi tuan rumah turnamen olahraga internasional daripada membela saudara-saudara Palestina kita yang terbunuh dan tersiksa oleh rezim Netanyahu, itu berarti Malaysia telah benar-benar kehilangan pedoman moralnya," ucap Syed melalui sebuah pernyataan.

"Malaysia berdiri teguh dengan keputusan kami atas dasar kemanusiaan dan solidaritas atas penderitaan Palestina. Kami tidak akan berkompromi." (rds/has)