Trump Buka Kemungkinan Intervensi Militer ke Venezuela

CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 10:41 WIB
Trump Buka Kemungkinan Intervensi Militer ke Venezuela Presiden Donald Trump membuka kemungkinan intervensi militer ke Venezuela di tengah krisis politik di negara Amerika Selatan tersebut. (Reuters/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika SerikatDonald Trump, membuka kemungkinan intervensi militer ke Venezuela di tengah krisis politik di negara Amerika Selatan tersebut.

Trump membuka kemungkinan ini dalam sebuah wawancara pada program 'Face the Nation' di stasiun televisi CBS pada Minggu (3/2).

Dalam sesi tersebut, Trump menyebut intervensi militer menjadi salah satu pilihan sikap AS. Namun, ia tak menjabarkan kondisi spesifik yang dapat memicu AS mengirimkan militer ke negara Amerika Selatan itu.


"Tapi yang pasti itu (intervensi militer) adalah sesuatu yang ada dalam pilihan," ucap Trump, sebagaimana dikutip AFP.
Pertimbangan intervensi militer kembali ditegaskan Trump menyusul krisruh politik Venezuela yang tak kunjung usai.

Selain opsi militer, Gedung Putih juga telah memberikan berbagai tekanan kepada Maduro untuk mundur, termasuk menerapkan embargo terhadap perusahaan minyak utama Venezuela, PDVSA, pada pekan lalu.

Sanksi itu dijatuhkan AS dengan harapan bisa memblokir sumber pemasukan Venezuela yang selama ini menopang rezim Maduro.
Krisis politik negara itu semakin pelik terutama setelah Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim Venezuela dan menantang rezim Maduro.

Selain menyerukan protes anti-Maduro di seluruh negeri, Guaido juga membujuk petinggi militer untuk membelot dari rezim rivalnya itu dengan imbalan amnesti.

Menurut Guaido, dukungan militer Venezuela sangat krusial bagi kesuksesan menggulingkan Maduro.

[Gambas:Video CNN]

Sejak itu, AS mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela dan mendukung kampanye global untuk mendepak Maduro dari kepemimpinan negara tersebut.

Selain AS, empat negara utama Uni Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Spanyol juga menyatakan akan mengambil langkah serupa jika Maduro tidak juga menggelar pemilihan umum presiden paling lambat Minggu (3/2) tengah malam.

Maduro menolak ultimatum Uni Eropa tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Spyanol, Sexta, Maduro menegaskan dirinya "tidak akan menyerah pada tekanan" dari pihak-pihak yang mendesaknya lengser. (rds/has)