Vietnam, Negara Komunis Lokasi Pertemuan Trump-Kim Jong-un

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 10:31 WIB
Vietnam, Negara Komunis Lokasi Pertemuan Trump-Kim Jong-un Patung Vladimir Lenin di Vietnam. (Reuters/Kham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dikuasai komunis dengan kecenderungan kapitalis, mitra Amerika Serikat dan Korea Utara, Vietnam dianggap memenuhi karakteristik untuk menjadi tuan rumah pertemuan kedua Donald Trump dan Kim Jung-un pada 27-28 Februari mendatang.

Seperti Korea Utara, Vietnam pernah mengalami perang berdarah dan menyakitkan dengan AS.
Namun, tidak seperti Pyongyang, Hanoi saat ini merupakan salah satu sekutu terdekat Washington. Mereka bangkit dari keterpurukan perang hingga menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di Asia, juga sangat cerdik berdiplomasi.

AFP pun merangkum beberapa alasan negara ini dipilih sebagai tuan rumah KTT Trump-Kim yang kedua.


Apakah masuk akal secara logistik?

Vietnam memenuhi banyak kriteria yang disyaratkan. Jarak penerbangan cukup singkat dari Pyongyang bagi Kim, walau ia mungkin akan memilih bepergian menggunakan kereta api lapis baja.

Sudah merdeka selama 74 tahun, negara ini juga memiliki kedutaan besar AS dan Korea Utara yang akan membantu persiapan pra-KTT.
Hanoi menikmati hubungan persahabatan dengan kedua AS dan Korut dan dianggap sebagai wilayah "netral", tidak seperti, katakanlah, negara bagian Hawaii di AS, yang juga dikabarkan masuk ke dalam daftar negara kandidat.

Keamanan di negara komunis juga sangat ketat, bahkan di saat keadaan normal. Pihak berwenang akan dengan hati-hati mengontrol akses media dan publik untuk acara di mana pergerakan para pemimpin diawasi dengan ketat oleh seluruh dunia.

Mengapa Kim mau ke Vietnam?

Vietnam adalah salah satu dari sedikit negara yang memiliki hubungan baik dengan Korea Utara.

Hubungan diplomatik antara Hanoi dan Pyongyang dimulai sejak 1950, dan Korea Utara mengirimkan personel angkatan udaranya selama Perang Vietnam.

Pemimpin Korea Utara terakhir yang mengunjungi Vietnam adalah kakek Kim Jong Un, Kim Il Sung, pada 1958. Sejumlah pejabat senior juga kemudian melakukan lawatan setelah itu.

[Gambas:Video CNN]

Namun, kerja sama perdagangan kedua negara menurun setelah sanksi PBB terhadap Pyongyang, mencapai 7 juta dollar AS pada tahun 2017.

Perjalanan Kim ke Vietnam akan menjadi yang pertama dan bisa menjadi kesempatan baginya untuk belajar transformasi ekonomi pasca-perang Vietnam.

"(Kim) akan tertarik melihat kisah Vietnam, yang dapat menjadi sumber inspirasi dan refleksi yang baik baginya untuk memikirkan langkah demi memajukan Korea Utara," kata Le Hong Hiep, seorang ahli Vietnam dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, kepada AFP.

Bagaimana dengan Washington?

Vietnam mungkin juga menjadi lokasi penting dan strategis bagi AS, yang saat ini sedang mengalami perang dagang dengan China - salah satu sekutu terdekat Korut.

Peneliti dari Institut Asan untuk Studi Kebijakan di Seoul, Cheon Seong Whun, mengatakan bahwa Trump dapat menggunakan Vietnam untuk "memberi isyarat kepada Beijing bahwa Korea Utara tidak ada di genggaman mereka. Kami memiliki penyeimbang terhadap pengaruh China di kawasan ini."
Washington juga ingin memamerkan kisah sukses ekonomi Vietnam, yang disebut-sebut oleh Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, selama kunjungan ke negara itu tahun lalu.

"Negara Anda dapat meniru jalan ini. Anda akan mampu seperti ini (Vietnam) jika Anda memanfaatkan momen ini," kata Pompeo dalam sambutannya yang ditujukan pada Kim.

"Hal ini juga bisa menjadi keajaibanmu di Korea Utara."

Mengapa Vietnam ingin menjadi tuan rumah?

Vietnam sangat ingin menunjukkan kedudukan dipolmatiknya di kancah global setelah menggelar KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 2017 dan pertemuan Forum Ekonomi Dunia regional tahun lalu.

Menjadi tuan rumah pertemuan bergengsi semacam ini dapat meningkatkan "status Vietnam di komunitas internasional, yang membantu negara itu menarik pariwisata dan investasi asing," kata Vu Minh Khuong, analis kebijakan di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew di Singapura. (syf/has)