Guaido Janji Bantuan Masuk ke Venezuela Pekan Depan

CNN Indonesia | Rabu, 13/02/2019 07:08 WIB
Guaido Janji Bantuan Masuk ke Venezuela Pekan Depan Juan Guaido, pemimpin oposisi Venezuela yang mendeklarasikan diri sebagai presiden interim, berjanji bantuan internasional masuk ke negaranya pada 23 Februari. (Federico PARRA/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juan Guaido, pemimpin oposisi Venezuela yang mendeklarasikan diri sebagai presiden interim, berjanji bantuan internasional akan masuk ke negaranya pada 23 Februari mendatang.

"Dipastikan bantuan kemanusiaan akan masuk Venezuela karena perampas kekuasaan tak punya pilihan selain meninggalkan Venezuela," ujar Guaido, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (12/2).

Ketika menyebut "perampas kekuasaan", Guaido merujuk pada Presiden Nicolas Maduro yang memblokade bantuan Amerika Serikat di perbatasan Kolombia.
"Ada hampir 300 ribu warga Venezuela akan meninggal jika bantuan tidak masuk. Ada sekitar dua juta orang dalam risiko kesehatan," ucap Guaido yang sudah diakui sebagai pemimpin interim Venezuela oleh 50 negara.


Sebelumnya, Guaido juga sudah mengumumkan pusat penampungan bantuan baru setelah Maduro memblokade perbatasan negaranya.

Duta Besar Guaido untuk Brasil, Maria Teresa Belandria, mengatakan bahwa pusat bantuan itu akan dibangun di Roraima, di dekat perbatasan tenggara Venezuela. 
Namun, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino, mengumumkan bahwa angkatan bersenjata akan dikerahkan "untuk menunjukkan kehadiran di sepanjang perbatasan."

Guaido sendiri sudah memperingatkan militer, yang masih setia kepada Maduro, agar tidak memblokade bantuan kemanusiaan.

Ia menyebut pemblokiran akses bantuan kemanusiaan ini "hampir seperti genosida" dan militer kemungkinan bertanggung jawab atas kematian 40 demonstran dalam unjuk rasa anti-Maduro sejak 21 Januari lalu.

[Gambas:Video CNN]

Di tengah unjuk rasa menolak Maduro itu lah Guaido memproklamirkan diri sebagai pemimpin interim Venezuela. Ia langsung mendapatkan dukungan dari AS dan puluhan negara lain.

Maduro yang masih memegang sumpah sebagai Presiden Venezuela pun menolak bantuan AS itu karena menganggapnya sebagai "pertunjukan politik."

Di bawah kepemimpinan Maduro, warga Venezuela harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan kebutuhan dasar di tengah hiperinflasi yang membuat gaji dan tabungan mereka tak berharga. (has/has)