Rusia Tawarkan Fasilitasi Dialog untuk Atasi Krisis Venezuela

CNN Indonesia | Rabu, 13/02/2019 09:00 WIB
Rusia Tawarkan Fasilitasi Dialog untuk Atasi Krisis Venezuela Wamenlu Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan negaranya memfasilitasi dialog antara pemerintah Venezuela dan oposisi demi mencapai kesepakatan mengatasi krisis di negara itu. (AFP PHOTO/POOL/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog antara pemerintah Venezuela dan oposisi demi mencapai kesepakatan untuk mengatasi krisis politik dan ekonomi di negara Amerika Selatan itu.

"Kami sudah menjalin kontak sangat penting dengan pemerintah negara tersebut dan siap memberikan layanan fasilitasi proses menemukan jalan keluar situasi negara tersebut," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, seperti dikutip Reuters, Selasa (12/2).

Ryabkov kemudian mengatakan bahwa Rusia sudah membuat sejumlah proposal penyelesaian krisis di Venezuela, tapi tak menjabarkan lebih lanjut.
Sementara itu, Menlu Rusia, Sergei Lavrov, menelepon Menlu Amerika Serikat, Mike Pompeo, untuk memperingatkan Washington agar tidak melakukan intervensi di Venezuela, termasuk dengan menggunakan militer.


Krisis politik di Venezuela memanas setelah pemimpin oposisi, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim di tengah unjuk rasa anti-Maduro besar-besaran pada 21 Januari lalu.

AS dan 50 negara lain mendukung Guaido, yang juga memegang jabatan Presiden Majelis Nasional Venezuela, badan parlemen negara tersebut. Menurut AS, Majelis Nasional adalah satu-satunya lembaga negara Venezuela yang dipilih langsung oleh rakyat.
Gelombang penolakan Maduro kian deras setelah ia menang dalam pemilu yang dianggap tidak sah karena sang presiden menghalalkan segala cara agar mencapai puncak kekuasaan.

Menurut oposisi, slah satu kecurangan Maduro tersebut adalah dengan mendirikan lembaga Konstituen Nasional, badan negara yang mengambil alih kewenangan Majelis Nasional.

[Gambas:Video CNN]

Warga pun khawatir Maduro akan tetap berkuasa di tengah krisis ekonomi hingga Venezuela dihantam hiperinflasi, kondisi yang menyengsarakan rakyat.

Meski demikian, Rusia dan sejumlah negara lainnya, seperti China, tetap mendukung Maduro sebagai presiden yang resmi mengucap sumpah jabatan. (has/has)