China Tutup Sementara Tibet Menjelang 60 Tahun Pendudukan

CNN Indonesia | Rabu, 20/02/2019 21:16 WIB
China Tutup Sementara Tibet Menjelang 60 Tahun Pendudukan Ilustrasi pemukiman di Tibet. (AFP PHOTO / Johannes EISELE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China dilaporkan menutup sementara akses kunjungan orang asing ke Tibet. Hal itu diperkirakan sebagai upaya untuk mencegah peringatan 60 tahun pemberontakan dan pendudukan Negeri Tirai Bambu pada 10 Maret mendatang terekspos.

Seperti dilaporkan Associated Press, Rabu (20/2), penutupan akses bagi orang asing itu sudah berlangsung selama beberapa pekan. Dari sejumlah agen perjalanan di Tibet yang dikontak, yakni Tibet Youth International Travel Service, Tibet Vista, dan Go to Tibet menyatakan mereka tidak diizinkan memfasilitasi kunjungan orang asing hingga 1 April mendatang.

Belum jelas sejak kapan larangan itu diberlakukan, tetapi menurut laporan hal itu dimulai sejak awal Februari. Para pegawai juga menolak membeberkan secara rinci alasan pelarangan itu, termasuk ketika diminta untuk menyebutkan nama untuk keperluan kutipan dalam pemberitaan.


Meski demikian, larangan bagi orang asing berkunjung ke Tibet memang bukan kali ini saja diterapkan. Bahkan wartawan dan diplomat pun tidak diperkenankan masuk ke sana karena dijaga ketat tentara China. Namun, peringatan 60 tahun penjajahan Tibet oleh China menjadi daya tarik tersendiri.
Setelah perang 1959 yang berakhir dengan kekalahan, China menduduki Tibet. Pemuka Buddha Tertinggi di Tibet, Tenzin Gyatso (83), yang diberi gelar Dalai Lama ke-14 terpaksa mengungsi ke India. Dia bermukim di sana hingga hari ini.

China mengklaim Tibet adalah wilayahnya dan Dalai Lama adalah simbol separatis. Mereka juga menganggap Kerajaan Tibet sebagai wujud feodalisme dan merupakan musuh ideologi komunisme yang dianut Negeri Tirai Bambu.

Pada 2009 sempat pecah kerusuhan di Ibu Kota Lhasa dan sekitarnya. Warga Tibet menyerang dan merusak individu serta entitas bisnis warga China hingga menewaskan 18 orang.

Aksi bakar diri juga kerap dilakukan oleh warga dan pendeta Buddha Tibet sebagai bentuk protes atas pendudukan China, dan meminta Dalai Lama kembali.
Di sisi lain, Tibet adalah salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi turis asing. Mereka pergi ke sana untuk merasakan mendaki gunung es atau menilik budaya setempat. Namun, untuk menuju ke sana para pelancong harus melewati proses dan mengantongi izin khusus di samping visa China. (ayp/ayp)