Jalan Panjang Trump dan Kim Jong-un dari Singapura ke Vietnam

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 08:53 WIB
Jalan Panjang Trump dan Kim Jong-un dari Singapura ke Vietnam Meski berliku, jalan perdamaian AS-Korut masih tetap terbuka, terbukti dengan pertemuan kedua Donald Trump dan Kim Jong-un di Vietnam hari ini, Kamis (28/2). (Reuters/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jalan perdamaian terbuka ketika Presiden Donald Trump dan Kim Jong-un berjumpa untuk pertama kalinya di Singapura pada Juni lalu. Meski berliku, jalan perdamaian tersebut ternyata masih tetap terbuka, terbukti dengan pertemuan kedua Kim dan Trump di Vietnam hari ini, Kamis (28/2).

Awalnya, jalan menuju perdamaian tersebut tampak mulus. Sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan di Singapura, kedua negara berupaya kuat untuk memperbaiki hubungan.

Trump berjanji akan mempertimbangkan kembali latihan militer AS dan Korea Selatan, kegiatan yang selama ini menjadi alasan Korut untuk tetap mengembangkan senjata nuklirnya.


Sebagai timbal balik, Korut menutup salah satu situs uji coba rudal terbesar mereka sebagai langkah menuju perlucutan senjata nuklir, layaknya yang dijanjikan dalam hasil pertemuan di Singapura.
Jalan Panjang Trump dan Kim Jong-un dari Singapura ke VietnamKorut menutup salah satu situs uji coba rudal terbesar mereka sebagai langkah menuju perlucutan senjata nuklir. (KCNA/via Reuters)
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, juga berkunjung ke ibu kota Korut, Pyongyang, untuk membicarakan lebih lanjut perundingan denuklirisasi.

Hasil pembicaraan di Singapura memang dianggap tidak terlalu jelas merinci denuklirisasi yang dimaksud. AS dan Korut pun diduga berselisih paham mengenai proses menuju denuklirisasi.

Korut menekankan bahwa denuklirisasi tak dapat berjalan beriringan dengan sanksi. Sementara itu, Trump terus menekankan bahwa AS tak akan mencabut sanksi sebelum Korut benar-benar melucuti senjata nuklirnya.
Hingga akhirnya, Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, turun tangan. Kembali bertemu dengan Kim pada September, Moon membujuk agar Korut tetap membuka jalan untuk pertemuan kedua dengan Trump.

Namun, pada akhir September, Menteri Luar Negeri Korut, Ri Yong-ho, mengeluhkan sikap AS yang dianggap tak menanggapi dengan baik "langkah niat baik" negaranya menuju perlucutan senjata nuklir.

"Tanpa kepercayaan dari Amerika Serikat, tak akan ada kepercayaan pada keamanan nasional kami dan dengan kondisi tersebut, tak mungkin kami melucuti senjata kami dulu secara unilateral," ucap Ri di hadapan Majelis Umum PBB.
Jalan Panjang Trump dan Kim Jong-un dari Singapura ke VietnamMenteri Luar Negeri Korut, Ri Yong-ho, mengeluhkan sikap AS yang dianggap tak menanggapi dengan baik 'langkah niat baik' negaranya menuju perlucutan senjata nuklir. (Reuters/Eduardo Munoz)
Sejak saat itu, perdamaian AS dan Korut nyaris menemui jalan buntu. Trump bahkan sempat membatalkan rencana kunjungan Pompeo ke Pyongyang setelah dilaporkan menerima surat bernada tak bersahabat dari pejabat tinggi Korut.

Jalan kembali terbuka ketika Trump bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, di sela pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina, pada November lalu. Dalam pertemuan itu, Xi dan Trump sepakat bahwa semua pihak harus menghargai upaya perdamaian dengan Korut.

Sepulangnya dari G20 pada Desember, Trump pun mengumumkan bahwa ia akan menggelar pertemuan kedua dengan Kim dalam waktu dekat. Ia bahkan berencana mengundang pemimpin Korut itu ke AS.

Mengawali tahun baru 2019, Kim menyambut niat baik Trump dengan mengatakan bahwa ia juga siap menghelat pertemuan kedua, meski dengan ancaman bakal "mengambil langkah alternatif" jika AS terus ingkar janji.

[Gambas:Video CNN]

Kim pun mengirimkan tangan kanannya, Kim Yong-chol, untuk menyusun agenda pertemuan lebih lanjut dengan pejabat di AS. Dalam lawatan tersebut, Kim Yong-chol diundang ke Gedung Putih, di mana ia akhirnya menyerahkan surat dari Kim Jong-un untuk Trump.

Dalam pidato kenegaraannya di hadapan Senat pada 5 Februari lalu, Trump akhirnya mengumumkan bahwa ia akan kembali berjumpa dengan Kim di Vietnam pada 27-28 Februari.

"Sebagai bagian dari diplomasi berani kami yang baru, kami terus melanjutkan desakan bersejarah kami untuk perdamaian di Semenanjung Korea," katanya. (has/has)