Presiden Korsel Sebut Trump Menyesal Perundingan Hanoi Gagal

CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 18:53 WIB
Presiden Korsel Sebut Trump Menyesal Perundingan Hanoi Gagal Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. (Pyeongyang Press Corps/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, mengatakan sekutunya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merasa menyesal karena tak dapat mencapai kesepakatan terkait denuklirisasi saat bertemu dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, kemarin di Hanoi, Vietnam.

Moon menyebut Trump mengatakan hal itu saat meneleponnya pada Kamis (28/2), beberapa jam setelah bertemu dengan Kim Jong-un.

"Selain menyatakan penyesalan bahwa dia tidak mencapai kesepakatan di KTT Hanoi, Presiden Trump menegaskan tekadnya untuk tetap menyelesaikan masalah dengan Korut melalui dialog," bunyi pernyataan Istana Kepresidenan Korsel, Cheongwadae, Jumat (1/3).


Dalam pernyataan itu, Moon menyarankan agar dia dan Trump segera bertemu empat mata untuk melanjutkan diskusi tentang masalah denuklirisasi di Semenanjung Korea. Trmp disebut setuju terhadap ajakan Moon untuk segera bertemu.
Meski begitu, dikutip AFP, Cheongwadae tak menjelaskan kapan waktu pastinya kedua pemimpin akan bertemu.

Selain Moon, Trump disebut juga menelpon Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Kepada wartawan di pesawat kepresidenan, Air Force One, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan Trump menelepon Abe dan Moon masing-masing selama 15 menit di tengah perjalanan pulangnya dari Hanoi pada Kamis petang.

"Dia (Trump) memberikan masing-masing mereka (Abe dan Moon) perkembangan terkait pertemuan (dengan Kim Jong-un). Presiden memberi tahu mereka bahwa dialog akan terus berjalan," kata Sanders.

Pertemuan kedua Trump dan Kim Jong-un yang semula diharapkan mampu memperjelas kesepakatan denuklirisasi antara keduanya, yang disetujui dalam di Singapura tahun. Namun, ternyata hasilnya di luar dugaan.

[Gambas:Video CNN]

Pertemuan antara Trump dan Kim Jong-un di Hotel Metropole Hanoi berakhir lebih cepat dari jadwal semula. Keduanya tak tidak sepakat soal denuklirisasi.

Dalam jumpa pers seusai KTT AS-Korut berakhir, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Kim Jong-un tidak siap memenuhi persyaratan yang diminta untuk melakukan lebih banyak langkah dalam proses denuklirisasi.

Di kesempatan yang sama, Trump menuturkan masalah sanksi menjadi alasan utama dia dan Kim Jong-un tak dapat mencapai konsensus dalam pertemuan kemarin.

Menurut Trump, Kim Jong-un sangat ingin sanksi-sanksi yang selama ini dijatuhkan AS dan dunia internasional dicabut.

Di saat bersamaan, Kim Jong-un tak bersedia menutup dan melucuti sejumlah situs rudal serta nuklir yang merupakan permintaan AS.
"Pada dasarnya mereka (Korut) ingin sanksi-sanksi dicabut sepenuhnya, tapi kami tidak bisa melakukannya," kata Trump.

"Dia (Kim Jong-un) ingin melakukan denuklirisasi, tapi dia hanya ingin (melucuti senjata nuklir) di situs-situs dan wilayah yang tidak terlalu penting dan tidak sesuai dengan keinginan kami.

Sementara itu, Korut membantah tak bisa memenuhi permintaan AS terkait denuklirisasi.

Menteri Luar Negeri Korut, Ri Yong-ho, menuturkan Kim Jong-un telah menawarkan "proposal yang realistis" dalam pertemuan tersebut.

Dia juga menuturkan Korut telah menawarkan untuk melucuti kompleks nuklir utamanya di Yongbyon sesuai permintaan, supaya AS berkenan mencabut sebagian sanksinya.

Ri membantah pernyataan Trump yang menyebut bahwa Kim Jong-un menginginkan AS mencabut seluruh sanksi internasional yang dijatuhkan kepada Korut selama ini karena senjata nuklir dan rudalnya.
Menurut Ri, proposal itu merupakan "langkah denuklirisasi terbesar yang bisa diambil Korut" dalam tahap ini, merujuk pada tingkat saling percaya antara AS-Korut sejauh ini. (rds/ayp)