Pemerintah Inggris Dikecam Pasca Kematian Bayi Pasangan ISIS

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 10/03/2019 10:44 WIB
Pemerintah Inggris Dikecam Pasca Kematian Bayi Pasangan ISIS Ilustrasi. (Foto: Pixabay/RitaE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Inggris mendapat kecaman setelah bayi berumur tiga minggu, Jarrah, dari pasangan Shamima Begum (19) dan seorang militan ISIS, Yago Riedijk dilaporkan meninggal dunia di Suriah, pada Jumat (8/3). Kecaman itu datang dari partai oposisi, Partai Buruh yang menyalahkan kepemimpinan Theresa May.

Kematian bayi Jarrah menuai kritik tajam terhadap Menteri Dalam Negeri Inggris, Sajid Javid yang telah mencabut kewarganegaraan Begum sehingga remaja itu tak dapat kembali ke Inggris.

Javid punya alasan menarik kewarganegaraan Begum dengan menyatakan prioritasnya adalah keselamatan dan keamanan Inggris dan rakyat yang tinggal di sana.


"Kematian tragis Jarrah, bayi Shamima Begum, merupakan "noda atas hati nurani" pemerintah ini," kata Diane Abbot, juru bicara partai oposisi, dilansir Reuters, Minggu (10/3).

"Menteri dalam negeri gagal (mengambil keputusan untuk menangani-red) anak Inggris ini dan mereka harus menjelaskan."

Seperti diberitakan bayi Jarrah dikabarkan sempat ditangani oleh dokter, pada Kamis (07/03) karena gangguan pernapasan. Namun nyawanya tak tertolong dan dinyatakan meninggal.

Terkait status Begum, kepemimpinan Theresa May dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut hingga akhirnya menimbulkan keprihatinan banyak orang.

Phillip Lee, yang mengundurkan diri dari menteri kehakiman saat kepemimpinan Theresa May mengatakan dia sangat prihatin dengan keputusan mencabut kewarganegaraan Begum.

"Jelas [kasus] Shamima Begum memiliki pandangan yang menjijikkan," katanya kepada BBC Radio.

"Tapi dia masih kecil. Dia adalah produk dari masyarakat kita ... dan saya pikir kita memiliki tanggung jawab moral kepadanya dan bayinya, Jarrah.

"Saya terganggu oleh keputusan itu. Tampaknya didorong oleh populisme, bukan oleh prinsip apa pun yang saya kenal."

Sementara dua anggota senior pemerintah mengatakan bahwa kematian itu adalah tragedi, dan menilai keputusan yang diambil atas dasar keamanan nasional.

"Setiap bayi yang meninggal adalah tragedi absolut, dan itu adalah bayi Inggris," kata Pemimpin Dewan Rakyat Inggris, Andrea Leadsom kepada Reuters.

"Namun demikian pekerjaan inti Menteri Dalam Negeri adalah untuk melindungi rakyat Inggris. Aku mendukung keputusannya." (mik)