Kementerian Hukum AS Turut Selidiki Boeing 737 MAX

CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 09:40 WIB
Kementerian Hukum AS Turut Selidiki Boeing 737 MAX Ilustrasi Boeing 737 MAX 8. (Stephen Brashear/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Hukum Amerika Serikat dilaporkan turut menyelidiki proses pembuatan Boeing 737 MAX. Mereka menjadi lembaga lain yang turut mengusut dugaan kegagalan fungsi perangkat di burung besi itu, selain Badan Penerbangan AS (FAA).

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (19/3), Kementerian Hukum AS menerbitkan surat perintah (subpoena) permintaan kepada seorang yang terlibat pembuatan pesawat itu. Menurut sumber, juri agung federal memintanya membuka catatan surel, pesan pendek, dan seluruh bentuk komunikasi.

Kementerian Hukum AS belum bisa memberi komentar soal itu. Sedangkan Boeing dan Badan Penerbangan AS (FAA) juga tidak bisa membenarkan soal penyelidikan itu.


"Boeing tidak menanggapi atau memberi komentar atas pertanyaan yang bersinggungan dengan persoalan hukum, baik secara internal, litigasi, atau penyelidikan pemerintah," tulis Juru Bicara Boeing, Charles Bickers, melalui surel.

[Gambas:Video CNN]

Biro Penyelidik Penerbangan Prancis (BEA) kemarin menyatakan dari hasil pengusutan permulaan terhadap data kotak hitam, terlihat ada kemiripan antara kecelakaan Ethiopian Airlines ET302 dan Lion Air JT610. Menurut mereka hal itu akan menjadi bahan untuk penyelidikan lebih jauh.

Pemerintah Ethiopia yang memutuskan mengirim dua kotak hitam pesawat Boeing 737 MAX 8 maskapai Ethiopian Airlines yang jatuh pada 10 Maret lalu ke Prancis, karena mereka tidak mempunyai kemampuan dan peralatan untuk menganalisis data pada perangkat itu. Insiden itu menyebabkan 157 awak dan penumpangnya meninggal.

Menurut Menteri Perhubungan Ethiopia, Dagmawit Moges, hasil kesimpulan awal dari pembacaan data di kotak hitam akan diungkap dalam 30 hari. Dia menyatakan data kecelakaan Lion Air akan dibandingkan dengan insiden Ethiopian Airlines.

Dari data penerbangan yang dilansir situs FlightRadar24, kedua pesawat itu sempat mengalami kendala dalam mempertahankan ketinggian jelajah sebelum jatuh.
Banyak pihak mencurigai sistem anti-stall (MCAS) yang ditambahkan di 737 MAX 8. Perangkat itu secara otomatis memerintahkan hidung pesawat menurun ketika pesawat dianggap dalam situasi stall.

Dalam kasus Lion Air, pilot mengalami kesulitan mengendalikan pesawat ketika mengaktifkan mode autopilot. Perangkat MCAS terus menerus mengarahkan hidung pesawat menukik tak berapa lama usai lepas landas.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines jatuh tak jauh dari di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, saat hendak menuju Nairobi, Kenya, 10 Maret 2019.

Pesawat itu mengangkut 157 penumpang dari 32 negara dan seluruhnya dipastikan tewas dalam kecelakaan itu.

Hasil penyelidikan sementara, pilot Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan 302 itu sempat meminta untuk kembali, setelah beberapa menit lepas landas dari bandara Bole di Addis Ababa pada pukul 08.38 pagi waktu setempat.
Insiden ini membuat gelombang larangan terbang terhadap Boeing seri 737 MAX meluas di seluruh dunia. (ayp/ayp)