Indonesia Sebut Pemulangan WNI Simpatisan ISIS Tak Mudah

CNN Indonesia | Kamis, 28/03/2019 16:15 WIB
Indonesia Sebut Pemulangan WNI Simpatisan ISIS Tak Mudah Gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak seperti Amerika Serikat dan Inggris, Kementerian Luar Negeri mengisyaratkan Indonesia masih ada kemungkinan untuk memulangkan warga Indonesia simpatisan ISIS dari wilayah konflik Suriah dan Irak. Meski begitu, mereka menyatakan hal itu harus melalui proses yang sangat rumit dan panjang.

"Apa yang kami lakukan tahun lalu saat memulangkan 17 WNI dari Suriah itu kan melalui proses yang sangat panjang," ucap juru bicara Kemlu RI, Arrmanatha Nasir, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (28/3).

"Jadi saya saat ini tidak bisa sampaikan apakah iya mereka (WNI yang saat ini berada di Suriah) akan kembali, kapan kembalinya, bagaimana kembalinya. Jadi itu adalah tahapan panjang yang harus kami lakukan," lanjut Arrmanatha.


Merujuk pada pemulangan 17 WNI dari Suriah pada 2017, Arrmanatha mengatakan prosesnya sangat panjang. Tahapan awal, papar Arrmanatha, pemerintah harus bisa memastikan orang-orang tersebut benar merupakan WNI.
Sebab, dia mengatakan sebagian dari orang-orang tersebut pergi dengan cara ilegal dan sudah tak memiliki dokumen perjalanan resmi. Sebab dari rekaman video yang disebarkan kelompok ISIS, banyak dari pengikutnya yang memilih memusnahkan paspor mereka.

Proses verifikasi, tutur Arrmanatha, tidak hanya dilakukan oleh Kemlu tapi juga bekerja sama dengan instansi lain seperti Badan Nasional Penanggulangan Teroris, Polri, dan Badan Intelijen Negara.

"Sebagian besar dari mereka saat pergi sudah tak memiliki dokumen resmi oleh karena itu kami harus melakukan berbagai tahap sebelum bisa memastikan apakah kami memberikan pelayanan kepada mereka sebagai WNI," kata Arrmanatha.

Arrmanatha mengatakan setelah melakukan proses verifikasi status kewarganegaraan, pemerintah akan melakukan penilaian terhadap orang-orang tersebut seperti kondisi fisik, psikologis, hingga sejauh mana mereka terpapar radikalisme.
"Harus diverifikasi dulu kewarganegaraannya. Setelah diverifikasi, kami melakukan analisis kembali untuk proses deradikalisasi. Ada berbagai tahap yang dilakukan di Suriah dan Indonesia. Tahapnya memang sangat panjang dan dari situ kami menentukan apakah bisa kembali atau tidak," papar Arrmanatha.

Pernyataan itu diutarakan Arrmanatha menyusul laporan bahwa terdapat puluhan WNI ditemukan di antara ribuan keluarga pejuang ISIS yang berada di kamp-kamp penampungan Al Hol, timur Suriah.

Lebih dari 9.000 anggota keluarga pejuang ISIS dilaporkan masih berada di kamp penampungan Al-Hol, timur laut Suriah, menyusul kekalahan kelompok teroris pimpinan Abu Bakr Al Baghdadi itu di Timur Tengah.

Juru bicara pasukan Kurdi, Luqman Ahmi, mengatakan sedikitnya 6.500 orang yang ada di kamp tersebut merupakan anak-anak. Tak sedikit dari ribuan pengungsi itu merupakan warga negara asing.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Inggris sudah menetapkan kebijakan tegas tidak akan menerima warganya yang bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah. (rds/ayp)