Dubes AS di Sudan Selatan Dipanggil Pulang

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 02:30 WIB
Amerika Serikat memanggil kembali duta besarnya di Sudan Selatan untuk melakukan evaluasi hubungan bilateral antar kedua negara. Menlu AS Mike Pompeo. (Foto: Drew Angerer/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat memanggil kembali duta besarnya di Sudan Selatan. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pemanggilan pulang dubes dilakukan untuk proses 'evaluasi' hubungan bilateral antara kedua negara.

"Kami bekerja sama dengan Sudan Selatan untuk mendukung upaya mencapai perdamaian dan transisi politik," ungkap Pompei melalui cuitan di akun Twitternya.

Dilansir AFP, juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus mengatakan duta besar AS di Juba, Thomas Hushek dipanggil pulang untuk melakukan pembicaraan di Washington terkait evaluasi hubungan antara AS dan Sudan Selatan.


Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan kepala pemberontak Riek Machar lengser pada 2013, atau tepat dua tahun setelah dinyatakan merdeka dari Sudan. Keduanya dianggap melewati tenggat waktu 12 November 2018 untuk membentuk pemerintahan yang menyatukan Sudan Selatan.

Medator negara-negara Afrika kemudian memberikan tambahan waktu 100 hari untuk membentuk pemerintahan baru.

[Gambas:Video CNN]

Tibor Nagy, asisten menteri luar negeri urusan Afrika mengatakan awal bulan ia meyakini Kiir dan Machar telah sepakat dengan status quo terkait pemerintahan Sudan Selatan.

"Komunitas internasional telah menyediakan bantuan berupa makanan dan obat-obatan. Pada dasarnya semua kebutuhan warga menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi mereka tidak melakukan hal itu," ungkap Nagy.

Sudan Selatan dinyatakan merdeka setelah memisahkan diri dari Sudan pada 9 Juli 2011. Referendum yang digelar mencatat 95 persen warga memilih untuk merdeka dari Sudan.

Setelah berpisah dari Sudan, pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu negara donor utama bagi pemerintahan Sudan Selatan.

AS menggelontorkan bantuan sekitar US$1 miliar per tahun untuk bantuan kemanusiaan.

Usai merdeka, Sudan Selatan masih dirundung konflik hingga perang antar-klan yang menewaskan ribuan orang. (evn)