Oposisi Bersedia Temui May Bahas Kebuntuan Brexit

CNN Indonesia | Rabu, 03/04/2019 02:53 WIB
Oposisi Bersedia Temui May Bahas Kebuntuan Brexit PM Inggris Theresa May. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin oposisi Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn bersedia untuk duduk bersama dengan Perdana Menteri Theresa May dan membahas kebijakan terkait penarikan diri Inggris dari Uni Eropa alias Brexit yang selama ini mengalami kebuntuan.

Mengutip Reuters, Selasa (2/4), Corbyn mengatakan dia merasa senang dengan keputusan May yang meminta perpanjangan tenggat waktu Brexit dari Uni Eropa untuk memberinya waktu membuat kesepakatan dengan parlemen.

May sebelumnya telah melakukan pembahasan dengan sejumlah menteri selama tujuh jam, dan memutuskan untuk meminta perpanjangan waktu kepada Uni Eropa dan bertemu oposisi


"Kami akan membutuhkan perpanjangan lebih lanjut, yang sesingkat mungkin," kata May seperti dikutip AFP.
Parlemen kembali gagal mencapai kesepakatan dengan May mengenai Brexit sementara tenggat waktu sudah semakin dekat, yaitu 12 April.  Tenggat waktu ini sendiri sudah diundur dari kesepakatan awal. Berdasarkan perjanjian usai referendum Brexit, Inggris seharusnya sudah keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret

May mengaku ingin bertemu Corbyn untuk menjelaskan rencananya bahwa Inggris akan keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan.

"Kita harus jelas untuk apa perpanjangan itu untuk memastikan tepat waktu dan tertib," katanya.
Pembahasan Brexit mengalami kebuntuan setelah kesepakatan yang disodorkan May kepada Uni Eropa berulang kali ditolak parlemen Inggris.

Menurut May keputusan terbaik bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa secara teratur adalah melalui suatu kesepakatan. Menurutnya kesepakatan yang telah diajukan olehnya merupakan kesepakatan terbaik dan satu-satunya yang tersedia.

Namun, parlemen bergolak karena kesepakatan yang dibuat May. Bahkan, tak hanya dengan oposisi, suara di tubuh Partai Konservatif pendukung May, juga terbelah yaitu kubu pro hard Brexit dan kubu pro Uni Eropa.

Untuk mengatasi kebuntuan, May pernah mengeluarkan jurus terakhirnya. Dia bersedia mundur dari jabatannya asalkan kesepakatan Brexit disepakati parlemen. Namun, langkah itu tidak juga mampu membuka kebuntuan.

Inggris telah melakukan referendum pada Juni 2016 , kubu yang ingin meninggalkan Uni Eropa menang dengan perolehan 51,9 persen. Sedangkan sisanya, kubu yang tetap bertahan di Uni Eropa sebanyak 48,1 persen.
[Gambas:Video CNN] (ugo/ugo)