Parlemen Inggris Minta Tenggat Brexit Diundur Lagi

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 08:26 WIB
Parlemen Inggris Minta Tenggat Brexit Diundur Lagi Ilustrasi unjuk rasa kelompok pendukung Brexit. (REUTERS/Yves Herman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Parlemen Inggris memutuskan memerintahkan Perdana Menteri Theresa May untuk meminta tambahan waktu kepada Uni Eropa, untuk memutuskan sikap terkait pengunduran diri dari keanggotaan blok itu (Brexit). Namun, legislatif yang mengambil alih pembahasan proses itu dari pemerintah tak kunjung memutuskan apakah akan pergi dari Uni Eropa dengan atau tanpa kesepakatan (deal or no deal).

Seperti dilansir CNN, Kamis (4/4), keputusan itu diambil oleh Majelis Rendah melalui pemungutan suara pada Rabu (3/4) malam waktu setempat. Hasilnya sangat tipis, yakni 313 berbanding 312 anggota.
Parlemen meminta May kembali meminta tambahan waktu kepada Uni Eropa untuk membahas Pasal 50 sebagai landasan hukum Inggris untuk mengundurkan diri sebagai anggota.

Padahal, Uni Eropa sudah mengundurkan tenggat Brexit dari semula 31 Maret menjadi 12 April. Namun, nampaknya May bakal sulit menepati janjinya untuk memberi keputusan tepat waktu.


Uni Eropa menyatakan mereka tetap terbuka akan segala kemungkinan Brexit. Namun, jika Inggris kembali meminta perpanjangan waktu, maka harus mengikuti pemilihan Parlemen Eropa pada 23 Mei mendatang.

Jika tidak ingin krisis akibat tertundanya keputusan Brexit bertambah panjang, maka Majelis Tinggi harus menyetujui aturan Brexit dalam waktu yang tersisa.

[Gambas:Video CNN]

May juga sedang berdialog dengan kelompok oposisi dipimpin Jeremy Corbyn soal Brexit. Mereka menyatakan perundingan itu berjalan baik dan berharap keputusan Brexit bisa disepakati kedua belah pihak secepatnya.

Akan tetapi, hal ini membuat sejawatnya di Partai Konservatif murka karena dia diduga akan memutuskan Brexit dengan kesepakatan. Bahkan, akibat perundingan itu dua menterinya mundur. Yakni Menteri Yunior Brexit, Chris Heaton-Harris, dan Menteri Wales, Nigel Adams.

Uni Eropa sudah meminta seluruh anggotanya hadir dalam rapat darurat pada 10 April mendatang. Jika Inggris tidak juga memutuskan sikap, maka mereka kemungkinan besar akan meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan dan bisa berdampak buruk terhadap sistem perekonomian kawasan dan Inggris.

"Kami sangat sabar menghadapi teman-teman di Inggris, tetapi sabar juga ada batasnya," kata Ketua Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker.
Sikap pesimis juga ditunjukkan oleh Ketua Komite Brexit Parlemen Eropa, Guy Verhofstadt. Dia menyatakan rapat parlemen Inggris soal Brexit pada Rabu besok menjadi jalan terakhir untuk mengambil keputusan.

"Brexit tanpa kesepakatan sepertinya tidak terelakkan. Inggris punya kesempatan terakhir untuk memecah kebuntuan atau menghadapi masalah," kata Verhofstadt. (ayp/ayp)