Seperti dilansir CNN, Kamis (4/4), keputusan itu diambil oleh Majelis Rendah melalui pemungutan suara pada Rabu (3/4) malam waktu setempat. Hasilnya sangat tipis, yakni 313 berbanding 312 anggota.
Lihat juga:Menteri Urusan Brexit Mengundurkan Diri |
Padahal, Uni Eropa sudah mengundurkan tenggat Brexit dari semula 31 Maret menjadi 12 April. Namun, nampaknya May bakal sulit menepati janjinya untuk memberi keputusan tepat waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tidak ingin krisis akibat tertundanya keputusan Brexit bertambah panjang, maka Majelis Tinggi harus menyetujui aturan Brexit dalam waktu yang tersisa.
[Gambas:Video CNN]
May juga sedang berdialog dengan kelompok oposisi dipimpin Jeremy Corbyn soal Brexit. Mereka menyatakan perundingan itu berjalan baik dan berharap keputusan Brexit bisa disepakati kedua belah pihak secepatnya.
Akan tetapi, hal ini membuat sejawatnya di Partai Konservatif murka karena dia diduga akan memutuskan Brexit dengan kesepakatan. Bahkan, akibat perundingan itu dua menterinya mundur. Yakni Menteri Yunior Brexit, Chris Heaton-Harris, dan Menteri Wales, Nigel Adams.
Uni Eropa sudah meminta seluruh anggotanya hadir dalam rapat darurat pada 10 April mendatang. Jika Inggris tidak juga memutuskan sikap, maka mereka kemungkinan besar akan meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan dan bisa berdampak buruk terhadap sistem perekonomian kawasan dan Inggris.
"Kami sangat sabar menghadapi teman-teman di Inggris, tetapi sabar juga ada batasnya," kata Ketua Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker.
"Brexit tanpa kesepakatan sepertinya tidak terelakkan. Inggris punya kesempatan terakhir untuk memecah kebuntuan atau menghadapi masalah," kata Verhofstadt. (ayp)