CEO Boeing Minta Maaf Soal Kecelakaan di Indonesia-Ethiophia

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 11:59 WIB
CEO Boeing Minta Maaf Soal Kecelakaan di Indonesia-Ethiophia CEO Boeing, Dennis Muilenberg, meminta maaf atas dua kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia dan Ethiophia. (Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama Boeing, Dennis Muilenburg, meminta maaf atas dua tragedi kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 yang terjadi di Indonesia dan Ethiophia dan menewaskan total 346 orang.

Permintaan maaf itu disampaikan lewat surat resmi yang diunggah di situs resmi Boeing dan menjadi komentar paling panjang Muilenburg sejak kecelakaan pertama terjadi pada Oktober tahun lalu.

Muilenburg juga mengakui kemiripan kedua tragedi, termasuk implikasi permasalahan atas perangkat Boeing.


"Kami di Boeing meminta maaf atas korban yang tewas dalam kecelakaan-kecelakaan 737 MAX yang terjadi baru-baru ini. Tragedi ini terus menjadi beban hati dan pikiran kami, dan kami menawarkan simpati pada orang-orang tercinta dari penumpang dan awak pesawat di penerbangan Lion Air 610 dan Ethiophian Airlines 302," ujar Muilenburg dalam pernyataan resminya.
Permintaan maaf Muilenberg ini muncul sehari setelah laporan awal penyelidikan insiden Ethiopian Airlines keluar. Laporan itu mengindikasikan bahwa perangkat lunak anti-stall Boeing yang dikenal sebagai MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) diduga mengalami malfungsi.

Dalam situasi berbahaya, MCAS bisa menyebabkan pilot kehilangan kendali terhadap pesawat karena kemunculan data yang salah dari berbagai sensor di pesawat.

Muilenberg juga menyinggung permasalahan MCAS ini dalam pernyataan resmi.

"Terlihat bahwa di dua penerbangan ini sistem yang dikenal dengan nama MCAS menjadi aktif untuk merespons serangan informasi yang salah," kata Muilenberg.

"Sejarah industri kami menunjukkan bahwa mayoritas kecelakaan terjadi karena serangkaian peristiwa. Hal ini pun terlihat dalam kasus saat ini, dan kami yakin bisa memecah salah satu rantai peristiwa pada dua kecelakaan tersebut. Seperti yang dikatakan para pilot pada kami, pengaktivasian yang salah pada fungsi MCAS bisa menyebabkan beban berlebih pada situasi yang sudah demikian berat. Menjadi tanggung jawab kami untuk menghilangkan risiko itu. Kami yang memiliki (MCAS) dan tahu cara melakukannya."
Ia juga berjanji perusahaannya akan bekerja keras untuk kembali mengembalikan kepercayaan industri penerbangan yang telah terguncang selama beberapa bulan terakhir.

"Kami tahu bahwa setiap orang yang menginjakkan kaki pada salah satu pesawat kami mempercayai kami," kata Muilenburg.

Sebelumnya Menteri Transportasi Ethiophia, Dagmawit Moges, menyatakan bahwa awak pesawat Ethiopian Airlines penerbangan 302 sudah mengikuti prosedur resmi saat kecelakaan.

"Kru melakukan semua prosedur yang diberikan oleh pabrik, tapi tetap tak dapat mengendalikan pesawat yang terus menukik," ujarnya.

Pernyataan Moges ini disampaikan berdasarkan laporan awal penyelidikan. Namun, sesuai dengan aturan internasional terkait kecelakaan udara, laporan awal ini tidak boleh melampirkan kemungkinan penyebab utama kecelakaan.

Laporan awal ini juga tidak boleh merinci analisis detail terkait penerbangan tersebut. Hasil laporan lengkap baru akan dirilis dalam beberapa bulan ke depan.
CEO Ethiophian Airlines, Tewolde Gebremariam, kepada CNN Internasional menyatakan bahwa terlalu dini untuk menyatakan Boeing telah mengambil langkah-langkah yang cukup untuk mengatasi masalah ini.

Ia juga menegaskan bahwa laporan awal telah membantah asumsi pilot tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk menerbangkan pesawat.

Perwakilan dari asosiasi pilot di Amerika Serikat (APA) menerima laporan itu dengan penuh kehati-hatian.

"Temuan awal dari penyelidikan kecelakaan pesawat Ethiophian mengonfirmasi bahwa malfungsi MCAS adalah peristiwa darurat dan bukan sesuatu yang bisa diabaikan," kata Jason Goldberg, juru bicara asosiasi tersebut.

"Kami tetap berhati-hati dan berharap penyelesaian ini akan dilakukan secara menyeluruh dan tidak dipercepat atau dilakukan terburu-buru. APA akan terus aktif untuk memastikan 737 Max baru akan mengudara hanya setelah seluruh pemangku kepentingan yakin pesawat itu siap."

[Gambas:Video CNN] (vws)