Rakyat Sudan Tuntut Pemerintahan Sipil, Menhan Mundur

CNN Indonesia | Sabtu, 13/04/2019 08:04 WIB
Rakyat Sudan Tuntut Pemerintahan Sipil, Menhan Mundur Ilustrasi unjuk rasa di Sudan. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perayaan kejatuhan Presiden Sudan, Omar al-Bashir, karena jabatannya yang dipertahankan selama 30 tahun sekejap berubah menjadi kekhawatiran. Penyebabnya adalah angkatan bersenjata memutuskan mengambil alih kekuasaan usai kudeta dengan membentuk Dewan Militer, dan tidak memberi kesempatan kalangan sipil membentuk pemerintahan baru.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (13/4), kelompok pegiat Asosiasi Profesional Sudan (SPA) menyatakan menolak militer mengambil alih pemerintahan. Mereka mendesak seluruh rakyat tetap berunjuk rasa mendesak angkatan bersenjata menyerahkan kekuasaan kepada kelompok sipil.
"Rezim ini juga menggunakan kudeta untuk kembali berkuasa, padahal kami sebagai rakyat justru melawan hal itu," demikian pernyataan SPA.

Aktivis Omar al-Neel menyatakan menolak pemerintahan militer. "Seluruh rakyat Sudan di jalan menuntut rezim sebelumnya turun dan tidak ingin kembali ke pusaran yang sama," kata al-Neel.


Desakan rakyat itu terbukti cukup ampuh. Menteri Pertahanan Sudan yang juga Kepala Dewan Militer, Jenderal Awad Ibn Auf, menyatakan mengundurkan diri dari posisinya.

Akan tetapi, rezim angkatan bersenjata tetap berjalan dan posisinya digantikan oleh Letjen Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman.
"Demi memastikan sistem pertahanan dan angkatan bersenjata secara keseluruhan, demi menghindari perpecahan dan perselisihan, mari kita berjalan ke arah baru," kata Ibn Auf.

Kepala Komite Politik Dewan Militer, Omar Zain al-Abideen, menyatakan mereka akan berdialog dengan sejumlah politikus dan partai politik untuk mempersiapkan langkah-langkah pemilihan umum. Dia berharap pemilu bisa digelar dalam rentang waktu dua tahun, atau lebih cepat.

Angkatan bersenjata Sudan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Presiden Omar al-Bashir, yang telah berkuasa sejak 1989 pada 11 April.

Kudeta dilakukan setelah gelombang unjuk rasa untuk menuntut Bashir mundur kian gencar sejak pekan lalu. Hal itu sudah dilakukan sejak Desember 2018.

[Gambas:Video CNN]

Militer Sudan saat ini memberlakukan jam malam. Mereka juga menutup seluruh perbatasan dan ruang udara sampai pemberitahuan lebih lanjut. (ayp/ayp)