Seperti dilansir CNN, Sabtu (13/4), kelompok pegiat Asosiasi Profesional Sudan (SPA) menyatakan menolak militer mengambil alih pemerintahan. Mereka mendesak seluruh rakyat tetap berunjuk rasa mendesak angkatan bersenjata menyerahkan kekuasaan kepada kelompok sipil.
Aktivis Omar al-Neel menyatakan menolak pemerintahan militer. "Seluruh rakyat Sudan di jalan menuntut rezim sebelumnya turun dan tidak ingin kembali ke pusaran yang sama," kata al-Neel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, rezim angkatan bersenjata tetap berjalan dan posisinya digantikan oleh Letjen Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman.
Kepala Komite Politik Dewan Militer, Omar Zain al-Abideen, menyatakan mereka akan berdialog dengan sejumlah politikus dan partai politik untuk mempersiapkan langkah-langkah pemilihan umum. Dia berharap pemilu bisa digelar dalam rentang waktu dua tahun, atau lebih cepat.
Angkatan bersenjata Sudan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Presiden Omar al-Bashir, yang telah berkuasa sejak 1989 pada 11 April.
Kudeta dilakukan setelah gelombang unjuk rasa untuk menuntut Bashir mundur kian gencar sejak pekan lalu. Hal itu sudah dilakukan sejak Desember 2018.
[Gambas:Video CNN]
Militer Sudan saat ini memberlakukan jam malam. Mereka juga menutup seluruh perbatasan dan ruang udara sampai pemberitahuan lebih lanjut. (ayp)