Gereja Notre-Dame Paris, Saksi Bisu Konflik Dunia

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 08:25 WIB
Gereja Notre-Dame Paris, Saksi Bisu Konflik Dunia Ilustrasi kebakaran Gereja Notre Dame di Paris, Prancis. (REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran Katedral Notre-Dame di Paris membuat sebagian besar rakyat Prancis sedih. Sebab bangunan bersejarah itu dianggap bukan cuma tempat ibadah, tetapi juga sebagai karya seni arsitektur sekaligus saksi bisu perjalanan dunia dengan sejumlah peperangan dahsyat yang terjadi.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/4), pembangunan Gereja Notre-Dame dimulai pada Masa Pertengahan, tepatnya pada 1160 saat masa kepemimpinan Uskup Maurice de Sully. Pembangunannya memakan waktu sampai 200 tahun karena pengerjaan sejumlah detail seperti patung dan lainnya, dan baru rampung pada 1260.
Cobaan pertama bangunan itu adalah ketika Revolusi Prancis pada 1790. Sejumlah artefak dan benda-benda di dalamnya, seperti patung, dirusak dan dihancurkan oleh massa.

Pada 1804, gereja itu digunakan untuk melantik Napoleon sebagai Kaisar Prancis. Baru pada 1844 sampai 1864 bangunan itu dipugar oleh arsitek Eugène Viollet-le-Duc.


Penulis Victor Hugo menjadikan bangunan itu sebagai latar cerita novelnya yang terbit pada 1931, The Hunchback of Notre-Dame.
Gereja itu selamat dari Perang Dunia I dan II. Setelah Prancis bebas dari cengkeraman Jerman pada 24 Agustus 1944, gereja itu membunyikan lonceng sebagai tanda merayakan suka cita rakyat negara itu.

Pemerintah Prancis lantas menggelar proyek pembersihan dan pemugaran gereja itu pada 1991 sampai 2000. Pada 2013, gereja itu tepat berusia 850 tahun.
Pada 15 April gereja itu terbakar dan menghancurkan dua pertiga atap kayu, serta sejumlah bagian. Yaitu kaca berbentuk lingkaran dan menara. Diduga api berasal dari proyek pemugaran yang sedang berlangsung. Namun, penyelidik masih mencari penyebab pastinya. (ayp/ayp)