Desa Sri Lanka Berderai Air Mata Makamkan Korban Bom Paskah

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 14:33 WIB
Desa Sri Lanka Berderai Air Mata Makamkan Korban Bom Paskah Satu desa di Negombo, Sri Lanka, berderai air mata ketika warga setempat menguburkan korban yang tewas dalam serangan bom pada Hari Paskah, Minggu (21/4) lalu. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu desa di Negombo, Sri Lanka, berderai air mata ketika warga setempat menguburkan puluhan korban yang tewas akibat serangan bom di Gereja St. Sebastian di Hari Paskah pada Minggu (21/4) lalu.

Di lapangan tanah di tengah desa tersebut, pada Senin (22/4), para kerabat dan tetangga korban berkumpul di bawah tenda dan pohon kelapa, saling peluk dan menyeka air mata.
Di dalam salah satu rumah, jasad tiga korban yang merupakan keluarga dibaringkan. Ketiga jenazah itu sudah dimandikan dan ditutupi pakaian sedemikian rupa sehingga luka bekas tembakan di tubuh mereka tak terlihat.

Sementara itu, di rumah lainnya, terlihat peti yang sudah tertutup rapat. Keluarga salah satu korban itu memutuskan untuk mengunci peti karena tak kuasa melihat jasad kerabatnya hancur terkoyak bahan peledak.


Setiap orang di Negombo menyimpan duka tersendiri di lubuk hatinya. Mereka hampir pasti memiliki kerabat yang tewas atau terluka dalam rangkaian serangan pada Minggu tersebut.
Desa Sri Lanka Berderai Air Mata Makamkan Korban Bom PaskahSatu desa di Negombo, Sri Lanka, berderai air mata ketika warga setempat menguburkan korban yang tewas dalam serangan bom pada Hari Paskah, Minggu (21/4) lalu. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Di gereja St. Sebastian saja, 150 jemaat tewas saat mereka sedang beribadah merayakan hari kebangkitan Yesus Kristus.

Tak hanya di Gereja St. Sebastian, tujuh lokasi lainnya juga menjadi sasaran serangan bom yang meledak dalam waktu berdekatan, merenggut total 310 nyawa dan melukai ratusan orang lainnya di Negombo, Kolombo, serta sejumlah daerah lainnya.

Para warga di Negombo masih tak percaya dengan tragedi yang menimpa negaranya. Mereka semakin heran setelah mengetahui kabar bahwa intelijen Sri Lanka sebenarnya sudah mengetahui potensi serangan sejak sepuluh hari sebelum Hari Paskah.
Kala masih merenung, mereka kembali dikejutkan dengan kabar satu bom lagi meledak saat aparat sedang menjinakkannya pada Senin. Bom itu meledak di lokasi yang sangat dekat dengan salah satu gereja target serangan pada Minggu lalu.

Mereka mengaku tak percaya harus menghadapi teror lagi dalam keseharian setelah perang sipil antara gerilyawan Tamil dan angkatan bersenjata berakhir pada 2009 lalu.

Para warga juga tak menyangka, perdamaian antara komunitas beragama di negara mereka bisa retak.

"Bahkan selama perang sipil, kami tidak pernah melihat serangan kekerasan seperti itu, terutama di tempat ibadah," ujar seorang pastor, Indarajid Sunasekaran, yang berkeliling desa untuk mendoakan para korban.

[Gambas:Video CNN]

Beberapa warga mengeluh kepada sang pastor. Mereka takut akan kehadiran Jemaah Tauhid Nasional (NTJ), kelompok militan Islam yang dituding sebagai dalang di balik serangan di Hari Paskah ini.

"Kami tidak boleh membiarkan ini mengubah semuanya. Kami harus bekerja sama untuk memberantas terorisme. Kami harus belajar dari masa lalu," kata Sunasekaran. (has/has)