Keluarga Kaya di Balik Serangan Bom Sri Lanka

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 23:12 WIB
Keluarga Kaya di Balik Serangan Bom Sri Lanka Ledakan bom di Sri Lanka menewaskan lebih dari 350 orang. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fathima Fazla tak pernah menyangka, tetangganya yang tinggal di sebuah rumah besar berlantai tiga bakal ternyata mampu berbuat kejam, menjadi dalang serangan bom di Sri Lanka.

Dua lelaki bersaudara yang terkenal sebagai orang kaya yang sederhana di pinggiran kota Kolombo disebut merupakan pemain kunci dalam serangan bunuh diri pada hari Minggu Paskah. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 350 orang.

Kelompok militan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi pada tiga gereja dan empat hotel.


Dikutip dari Reuters, seorang sumber yang dekat dengan keluarga itu menyebut Inshaf Ibrahim meledakkan alat peledaknya di restoran tempat sarapan hotel mewah Shangri-La. Ia adalah seorang pemilik pabrik tembaga berusia 33 tahun.


Sumber Reuters juga menyebut ketika polisi pergi hari itu untuk menggerebek rumah keluarganya, adik lelakinya Ilham Ibrahim meledakkan sebuah bom yang membunuhnya, istri, dan ketiga anak pasangan itu.

"Mereka tampak seperti orang baik," kata Fazla kepada Reuters dari rumahnya di seberang kediaman keluarga Ibrahim, yang sekarang ditutup dengan pita TKP dan dikawal polisi.

Nama saudara-saudara keduanya juga dilaporkan di media setempat. Pihak berwenang Sri Lanka belum merilis identitas pembom mana pun, dan polisi tidak menanggapi permintaan komentar.

Ayah kedua lelaki bersaudara itu, Mohamed Ibrahim ditangkap ketika polisi menyelidiki pada pelaku di balik serangan itu. Ibrahim, seorang pedagang rempah-rempah yang kaya memiliki enam putra dan tiga putri. 

[Gambas:Video CNN]

"Dia terkenal di daerah itu karena membantu orang miskin dengan makanan dan uang. Tidak terpikirkan anak-anaknya bisa melakukan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan, semua Muslim diperlakukan sebagai tersangka," ungkap Fazla.

Menurut sumber, Ilham Ibrahim (31 tahun) secara terbuka mengungkapkan ideologi ekstremis dan telah terlibat dalam pertemuan National Thowheed Jamath, kelompok Islam setempat. NTJ diduga terlibat dalam merencanakan serangan.

Sementara Inshaf disebut lebih moderat dan dikenal dermawan kepada pegawainya. Inshaf menikah dengan seorang putri dari pengusaha perhiasan kaya dan tak pernah mengalami permasalahan dengan uang.


"Saya terkejut. Kami tidak pernah mengira mereka adalah orang-orang seperti ini," kata Sanjeewa Jayasinghe, seorang insinyur pemasangan kabel jaringan yang bekerja di sebelah rumah keluarga Ibrahim.

Pemboman hari Minggu pagi menghancurkan ketenangan Sri Lanka yang mayoritas penduduknya Budha, sejak perang saudara melawan sebagian besar Hindu, etnis separatis Tamil berakhir 10 tahun yang lalu. Pemboman tersebut dikhawatirkan menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya kekerasan sektarian.

Meskipun saudara-saudara Ibrahim dicerca di banyak negara karena membuat Sri Lanka berantakan, mereka akan dirindukan oleh beberapa orang di komunitas yang mengandalkan mereka.

"Dia baik, tidak seperti banyak bos. Saya senang bekerja untuknya. Sekarang dia sudah pergi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?" kata Sarowar, seorang pekerja Bangladesh di pabrik tembaga milik Inshaf yang ditinggalkan di pinggiran Colombo. (agi)